Kisah Imelda Paewangan, Dulu Berangan Kerja di Bank, Kini Temukan Arti Pengabdian di Puskesmas Batu Ampar

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Hampir dua dekade, Imelda Paewangan, A.Md. Keb, menjadi saksi sekaligus pelaku perjalanan layanan kesehatan ibu anak di Puskesmas Batu Ampar. Di balik keahliannya menolong persalinan, memantau kehamilan, hingga membina balita di Posyandu, ada kisah panjang tentang pilihan karier yang bermula dari “ketidaksengajaan”, lalu berubah menjadi panggilan hidup.

“Sebenarnya awal mula itu antara mau atau tidak. Justru banyak tidaknya,” ujarnya mengenang masa remajanya saat ditemui di Puskesmas Batu Ampar pada Rabu (26/11/2025). Lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) tahun 1995 ini memulai langkah di dunia kesehatan sejak usia muda. Ia masuk SPK langsung setelah SMP, meski saat itu keinginannya adalah bersekolah di SMK dan bahkan bermimpi bekerja di bank bersama teman-temannya.

“Punya teman bareng-bareng mau masuk Bank. Tapi saya lolosnya kesehatan. Sampai sekarang teman saya masih di Bank,” ceritanya sambil tertawa. Berbeda jalan, namun Imelda menemukan perspektif baru dari pendidikan kesehatan: bagaimana suara tenaga medis, bahkan yang masih muda sekalipun, bisa didengar orang.

“Kita dididik kok orang mau ya mendengarkan kita, padahal masih muda. Tapi nasehat kita didengar, di situlah awal saya mulai tertarik karena merasa seru juga,” katanya. Baginya, profesi kesehatan memberinya reward pertama yang tak ia duga, yakni kepercayaan publik, meski saat itu usianya baru belasan tahun.

Masa Dinas Imelda Paewangan di Kampung dan Pembentukan Empati

Selepas SPK, Imelda langsung di tempatkan berdinas di kampung, melayani masyarakat dengan sumber daya terbatas. Tiga tahun pertama itu menjadi fondasi ketangguhan dirinya sebagai nakes, sekaligus mengajarinya kepekaan sosial. Setelah tiga tahun di kampung, ia kembali ke rumah sakit di Samarinda, lalu memutuskan memperdalam pendidikan kebidanan di Poltekkes Kemenkes Kaltim. Ia lulus pada 2006.

Tahun 2007, Imelda mendaftar ke Puskesmas Batu Ampar dengan status tenaga bantuan (naban). Setahun berselang ia lolos seleksi PNS untuk tenaga kebidanan, dan resmi mengabdi di Batu Ampar hingga saat ini.

Ia resmi jadi PNS sejak 2011–sekarang, dan langsung di tempatkan sebagai bidan di Puskesmas Batu Ampar. Hingga saat ini, ia sudah kurang lebih 18 tahun bertugas di Batu Ampar, menjadikannya bidan senior yang kehadirannya sangat di kenal keluarga-keluarga pasien.

“Kalau sukanya jelas: melayani orang. Ternyata kita bisa berguna dan bermanfaat, itu motivasi tersendiri,” katanya. Pengalamannya menjadi bukti bahwa bidan puskesmas bukan hanya penolong klinis, tetapi pendamping keluarga dan penggerak kesadaran kesehatan masyarakat.

Dedikasi Panjang dan Pengabdian Tanpa Henti

Di usianya yang memasuki pertengahan karier, Imelda menaruh doa yang sama bagi diri dan institusinya. “Harapannya semoga kami tetap sehat terus, sehingga bisa terus melayani masyarakat. Kami semua di sini tetap berarti bagi masyarakat, dan pelayanan ini benar-benar di rasakan dengan baik,” tutupnya.

Kisah Imelda Paewangan menggambarkan wajah tenaga kesehatan primer yang sesungguhnya. Tumbuh bukan karena rencana besar di awal, tetapi bertahan karena makna kemanusiaan, kepercayaan masyarakat, dan keinginan untuk terus mengayomi. Dengan 18 tahun jam terbangnya, ia menjadi pengingat bahwa kualitas layanan puskesmas bukan hanya di ukur dari alat atau aplikasi, tetapi juga dari ketulusan manusia yang menyapa pasien setiap hari. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *