Inflasi Balikpapan Naik, PPU Justru Deflasi! Harga Tiket Pesawat dan BBM Jadi Pemicu

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Kabar baik sekaligus peringatan datang dari perkembangan harga kebutuhan masyarakat di Kalimantan Timur. Pada Mei 2026, inflasi di Kota Balikpapan kembali naik, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum.

Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan mencatat inflasi Balikpapan mencapai 0,27 persen secara bulanan (month to month/mtm). Sebaliknya, PPU mengalami deflasi sebesar 0,06 persen.

Meski demikian, Bank Indonesia memastikan kondisi tersebut masih tergolong aman dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menilai stabilnya pasokan pangan serta berbagai program pengendalian harga yang dilakukan pemerintah daerah menjadi faktor utama inflasi tetap terkendali.

Tiket Pesawat, Solar dan Oli Jadi Penyumbang Inflasi
Kenaikan harga di Balikpapan paling banyak dipicu sektor transportasi dengan andil mencapai 0,43 persen.

Lonjakan harga tiket pesawat menjadi penyumbang terbesar. Kenaikan ini dipicu meningkatnya permintaan perjalanan selama dua periode long weekend pada Mei 2026, ditambah kebijakan penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik akibat naiknya harga avtur.

Selain itu, harga solar non subsidi dan pelumas kendaraan juga ikut terkerek karena dampak kenaikan harga minyak dunia.

Tak hanya itu, masyarakat juga mulai merasakan kenaikan harga beras premium dan roti manis.

“Harga beras premium naik karena pasokan yang terbatas, sementara permintaan tetap tinggi menjelang Iduladha,” demikian analisis BI Balikpapan.

LPG Murah, Ayam dan Tomat Turun Harga
Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, ada pula kabar menggembirakan bagi warga Balikpapan.

Harga LPG rumah tangga mengalami penurunan berkat operasi pasar yang digelar pemerintah dan TPID di seluruh kecamatan.

Selain itu, harga daging ayam ras, tomat, kangkung hingga emas perhiasan juga tercatat turun.

Penurunan harga ayam didorong meningkatnya pasokan ayam segar dari wilayah sekitar Balikpapan serta kiriman ayam beku dari Pulau Jawa.

Sementara tomat dan cabai mulai melimpah karena memasuki masa panen di sejumlah daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi.

PPU Deflasi karena Hasil Laut Melimpah
Berbeda dengan Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara justru mencatat deflasi.
Turunnya harga daging ayam, cabai rawit, ikan tongkol, udang segar, dan tomat menjadi faktor utama.

Kondisi cuaca yang cukup bersahabat membuat hasil tangkapan nelayan meningkat tajam sehingga pasokan ikan dan udang di pasar melimpah.

Namun demikian, beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga, seperti beras premium, solar, sawi hijau, buncis, hingga rokok kretek mesin.

Musim Kemarau Jadi Ancaman Baru
Meski kondisi saat ini relatif terkendali, Bank Indonesia mengingatkan adanya ancaman inflasi pada semester kedua tahun ini.

Masuknya musim kemarau mulai Juni di Kabupaten Paser dan berlanjut ke Balikpapan serta PPU pada Juli berpotensi mengganggu produksi pertanian.

Di sisi lain, Pulau Jawa sebagai pemasok utama kebutuhan pangan Kalimantan Timur juga diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal.

“Hal ini berisiko mengurangi pasokan sejumlah komoditas pangan strategis ke Kalimantan Timur,” ungkap BI.

BI dan TPID Perkuat Operasi Pasar
Untuk menjaga harga tetap stabil, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menggencarkan berbagai program.

Sepanjang Mei 2026 telah digelar:
• 11 kali Gerakan Pangan Murah di Balikpapan
• 6 kali operasi pasar di PPU
• 4 kali operasi pasar di Kabupaten Paser
• Operasi pasar LPG di seluruh kecamatan Kota Balikpapan

Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat kerja sama pasokan pangan antarwilayah serta mendorong urban farming dan percepatan tanam hortikultura.

Dengan berbagai langkah tersebut, BI optimistis inflasi Balikpapan dan PPU tetap berada dalam level aman hingga akhir 2026.

“Bagi masyarakat, yang terpenting saat ini adalah pasokan pangan tetap tersedia dan harga masih dalam batas yang bisa dikendalikan. Namun kewaspadaan tetap perlu dijaga, terutama menghadapi musim kemarau dan potensi kenaikan biaya energi global,” kata Robi Ariadi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *