Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Di Batu Ampar, Puskesmas tidak hanya memantau berat dan tinggi anak, tetapi juga berusaha menemani orang tua memahami arah perkembangan buah hatinya. Salah satu keluhan yang cukup sering muncul sepanjang tahun ini datang dari keluarga muda, anak sudah usia tiga tahun, tapi belum bisa bicara lancar. Bukannya menjadi vonis, kondisi ini justru dibaca Puskesmas Batu Ampar sebagai peluang intervensi dini, agar anak mendapatkan stimulus yang tepat dan orang tua mendapat pemahaman baru tanpa rasa bersalah.
Penanggung jawab Program Anak Puskesmas Batu Ampar, Feti Handayani, A.Md, Keb, menuturkan bahwa pada banyak kasus keterlambatan bicara, akar persoalannya bukan pada ketidakmampuan anak semata, tetapi stimulus komunikasi yang belum optimal di rumah. “Saat kami kupas lebih dalam, kebanyakan orang tua memberikan gadget sejak dini. Jadinya anak hanya komunikasi satu arah: menerima tanpa ada umpan balik,” kata Feti saat ditemui pada Kamis (27/11/2025).
Ia menjelaskan, anak di usia emas perkembangan, terutama di bawah lima tahun, memerlukan percakapan dua arah, mimik wajah, respons suara, dan interaksi langsung. Ketika gadget menjadi sumber utama hiburan dan komunikasi, anak kehilangan kesempatan membalas, menjawab, dan mengekspresikan, sehingga kelancaran bicara pun tertunda. “Gadget itu sangat berpengaruh terhadap anak bisa berbicara atau tidak. Karena dia hanya menerima, tanpa proses merespons. Itu yang kita ingin ubah, balikkan lagi komunikasinya jadi dua arah,” tegasnya.
Strategi Puskesmas Batu Ampar untuk Tingkatkan Interaksi Orang Tua dan Anak
Melalui pendampingan di Posyandu dan kelas perkembangan balita, Puskesmas Batu Ampar mengedukasi orang tua tentang beberapa hal penting:
Interaksi Langsung Adalah “Vitamin Bicara” Terbaik
- Ajak anak berdialog, bukan hanya memberi tontonan
- Tatap mata, ulangi kata yang mudah, beri kesempatan anak merespons walau pelan
- Bicara bukan soal banyak kata, tapi ada balasan dan kedekatan
Batasi Gadget, Perluas Obrolan
- Kurangi layar, tambah cerita dan tanya jawab ringan
- Ganti konten video dengan aktivitas bercakap saat makan, mandi, atau bermain
- Jadikan gadget alat bantu terbatas, bukan teman dominan
Bermain Sambil Bicara
- Stimulasi lewat menyebut benda, warna, nama binatang, ekspresi perasaan
- Dorong anak menirukan kata sederhana seperti “mau”, “ini”, “bola”, “ibu”, “lagi”
Jangan Menunggu Sempurna untuk Mulai
- Anak mungkin belum lancar bicara, tapi selalu ada progres jika di beri ruang
- Orang tua tidak perlu malu atau menunda periksa
- Semakin cepat berkonsultasi, semakin optimal pendampingan yang bisa diberikan
Perubahan Pola Pikir Orang Tua Setelah Mengikuti Edukasi
Feti menilai, hal paling membahagiakan dari program ini adalah perubahan cara pandang orang tua setelah diedukasi. Mereka mulai memahami bahwa:
- Keterlambatan bicara bukan berarti anak “tidak mampu”, tetapi butuh stimulus berbeda
- Yang perlu di perbaiki adalah lingkungan komunikasinya, bukan menyalahkan anaknya
- Puskesmas adalah ruang belajar orang tua, bukan ruang penghakiman
“Kalau ada keluhan perkembangan, ayo kupas bareng-bareng. Kita lihat lagi kebiasaannya di rumah, kita dampingi, dan kita cari solusi terbaik. Tidak ada ibu atau anak yang harus berjuang sendiri,” kata Feti.
Di Batu Ampar, tips perkembangan anak tidak di sampaikan dalam nada larangan atau menyalahkan, melainkan dengan narasi baru: kurangi gawai, perbanyak sapa; kurangi layar, perbanyak suara; ganti tontonan, tambah percakapan.
Karena bagi Puskesmas Batu Ampar, setiap anak selalu punya pintu bicara—selama kita memberinya ruang untuk membalas suara dan kehadiran kita lebih besar dari layarnya.






