Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Angka gizi kurang pada anak di wilayah Batu Ampar bukan sekadar statistik kesehatan, melainkan potret kebiasaan yang perlu di benahi bersama. Puskesmas Batu Ampar menilai, faktor paling dominan dari anak yang mengalami kekurangan gizi bukan bertumpu pada aspek ekonomi. Melainkan pola asuh dan pengaturan makan yang di berikan oleh orang tua maupun pengasuh di rumah.
Ahli Gizi Puskesmas Batu Ampar, Marhamah, A.Md, Gz, menjelaskan bahwa aturan makan yang konsisten dan sesuai kebutuhan anak merupakan pilar penting dalam mencegah dan menanggulangi gizi kurang. Menurutnya, banyak orang tua luput mengenali isyarat lapar anak karena jam makan tidak diatur dengan baik, sehingga porsi dan kualitas asupan kerap tidak sesuai kebutuhan.
“Faktor utamanya ada di orang tua atau pengasuh. Pola asuh itu lebih ke pemberian makanannya, terutama aturan makan. Aturan makan ini wajib ada, supaya orang tua paham kapan anak benar-benar lapar dan butuh makan,” tutur Marhamah saat di temui di Puskesmas Batu Ampar pada Kamis (26/11/2025).
Dampak Aturan Makan yang Tidak Konsisten pada Asupan Anak
Menurut penjelasan Marhamah, aturan makan bukan berarti mengekang, melainkan membantu orang tua membaca kebutuhan biologis anak secara terukur. Pola makan yang tidak berjadwal membuat anak sering di beri camilan mendekati jam makan. Akhirnya kenyang lebih dulu dan makan utama terlewat. Kondisi ini, bila berlangsung lama, dapat memicu defisit kalori dan nutrisi penting untuk tumbuh kembang.
Selain faktor aturan makan, faktor ekonomi memang tetap di temukan, namun jumlahnya terbilang kecil. Data Puskesmas justru menunjukkan mayoritas keluarga berada pada kategori ekonomi sedang hingga atas, bahkan cukup mapan. Dengan begitu, tantangannya bukan pada daya beli, melainkan pada kebiasaan dan pemahaman nutrisi keluarga.
“Kalau faktor ekonomi memang ada sebagian, tapi tidak banyak. Rata-rata ekonomi sedang ke atas. Jadi sebenarnya bukan soal tidak mampu, tetapi soal aturan makan yang sering di sampingkan, padahal itu hal yang penting,” tegasnya.
Pemantauan Kasus dan Target Intervensi Gizi Anak Oleh Puskesmas Batu Ampar
Hingga Oktober lalu, tercatat hampir 100 balita di wilayah kerja Puskesmas Batu Ampar masuk dalam pantauan indikator pendek menurut usia skrining awal potensi stunting dan gizi kurang. Persentasenya berada di kisaran 11 persen dari total sasaran balita. Angka yang masih di bawah target tahunan nasional yakni 12–13 persen untuk balita stunting.
“Target tahunan itu sekitar 12 atau 13 persen untuk balita stunting. Jika lebih dari itu, artinya intervensinya harus luar biasa. Dan bersyukurnya, di Batu Ampar tidak sampai segitu. Sampai Oktober ada hampir 100 anak yang terus kami pantau dan dampingi,” ucap Marhamah penuh syukur. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






