Strategi Puskesmas Batu Ampar Kejar Sampel, Putus Rantai TB dari Rumah ke Rumah

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Capaian skrining TB Paru di Batu Ampar terus menunjukkan tren progresif, namun satu hambatan klasik masih bertahan: sampel dahak yang tidak kembali ke puskesmas. Di lapangan, banyak pasien berstatus suspek TB tidak mengantarkan kembali pot dahak untuk diperiksa, membuat proses diagnosis kerap tertunda. Kendati demikian, Puskesmas Batu Ampar menolak menyerah pada kendala logistik – mereka memilih menjemput data, pasien, hingga sampel dari depan pintu rumah warga.

Analis Laboratorium Kesehatan Puskesmas Batu Ampar, Ida Nurhayati, A.Md, AK, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukan pada ketersediaan alat uji, melainkan pada konsistensi pengantaran sampel oleh pasien.

“Sejauh ini memang kendala TB Paru itu ada di sampel. Banyak pasien tidak mengantarkan kembali sampelnya ke puskesmas,” ujar Ida pada Rabu (26/11/2025). Namun bagi tim kesehatan di Batu Ampar, kendala itu justru menjadi peta jalan baru untuk inovasi pelayanan.

Strategi yang dijalankan puskesmas adalah mengaktifkan dua pendekatan utama: pelacakan berbasis data sistem SITB dan kunjungan lapangan (contact tracing).

“Kalau suspek berkunjung ke puskesmas, datanya masuk ke SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis). Dari situ kita bisa lacak alamatnya, lalu kita datangi ke rumahnya,” jelasnya. Tak hanya lacak pasien, tim puskesmas juga langsung menyasar seluruh anggota keluarga yang kontak serumah, terutama jika memiliki gejala khas TB seperti batuk berkepanjangan, demam, keringat malam, atau nafsu makan menurun.

“Kita kejar kontak serumahnya. Kita berikan pot dahak, edukasi, lalu kita bawa langsung sampelnya ke puskesmas untuk diperiksa,” tambah Ida. Cara ini dinilai memutus hambatan perilaku pengantaran sampel sekaligus mempercepat diagnosis dan pencegahan penularan di dalam satu rumah, sebelum merembet ke rumah lainnya.

Batu Ampar sendiri dikenal sebagai wilayah dengan mobilitas warga yang tinggi, termasuk banyaknya penduduk kontrak dengan karakter demografi yang beragam. Meski pengantaran sampel menjadi kendala, Ida bersyukur bahwa program tindak lanjut kepada pasien TB positif justru menunjukkan kabar terbaik.

“Alhamdulillah, dari semua pasien ada progres. Mereka rutin datang berobat. Yang tidak bisa datang, kami yang datang ke rumahnya sekalian bawakan obatnya. Sampai akhir pengobatan, ada saja yang tuntas,” ungkapnya dengan optimisme.

Namun, tantangan lain muncul pada keberlanjutan pengobatan. Menurut Ida, ada sejumlah kecil pasien yang tidak menyelesaikan 6 bulan pengobatan, bukan karena menolak obat, tetapi karena pindah alamat kontrakan sehingga melanjutkan pengobatan di faskes lain.

“Pasien yang ngontrak lalu pindah rumah, biasanya pindah ke faskes lain, jadi tidak di sini lagi. Makanya ada sebagian yang tidak tuntas pengobatan di Puskesmas Batu Ampar,” jelasnya.

Profil pasien TB yang terpantau dominan ialah usia 40–50 tahun ke atas, terutama perokok, sementara kasus pada anak-anak umumnya karena penularan dari kakek atau nenek di rumah, menegaskan bahwa pencegahan TB harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Standar edukasi di lapangan pun terus digencarkan: mulai dari etika batuk, pemakaian masker, isolasi kamar sementara bagi pasien TB positif, hingga pemindahan balita dari paparan kontak dekat selama masa pengobatan berlangsung. Bagi puskesmas, edukasi bukan sekadar penyampaian teori, tetapi pendampingan perilaku yang memuliakan pasien di tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan strategi jemput bola berbasis data dan pendekatan keluarga, Puskesmas Batu Ampar semakin meneguhkan citra sebagai garda terdepan penanganan TB yang inovatif, responsif, dan humanis. Ida Nurhayati berharap, program lapangan bisa terus diperkuat di tahun-tahun mendatang, bukan hanya sebagai intervensi kesehatan, tetapi juga sebagai pesan kepada publik bahwa mengatasi TB bukan hanya urusan klinik – ini urusan kebersamaan menjaga rumah, keluarga, dan masa depan anak-anak Batu Ampar.

“Harapan kami, tahun selanjutnya program turun ke lapangan selalu ada. Karena TB ini bukan hanya soal periksa dahak, tapi soal memutus rantai penularan. Kalau masyarakat mau diperiksa dan diedukasi sejak dini, dampaknya akan besar untuk mencegah penularan, terutama ke generasi muda,” pungkasnya. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *