Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Pertumbuhan anak adalah cerminan masa depan sebuah wilayah. Kesadaran itu menjadi komitmen utama Puskesmas Batu Ampar dalam menggerakkan program gizi secara terstruktur, kolaboratif, dan berkelanjutan. Upaya ini makin terasa dampaknya melalui penguatan skrining dan intervensi gizi di tingkat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), yang menjadi basis awal pemantauan tumbuh kembang anak di wilayah Batu Ampar.
Ahli Gizi Puskesmas Batu Ampar, Marhamah, A.Md, Gz, menjelaskan bahwa pemantauan status gizi anak dilakukan rutin setiap bulan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu oleh kader kesehatan. Data hasil penimbangan bayi dan balita kemudian dihimpun, diserahkan ke Puskesmas, lalu diolah melalui sistem validasi berlapis sebelum menjadi dasar intervensi kesehatan.
“Program gizi di sini fokus pada pertumbuhan anak, yang datanya kami peroleh dari kader Posyandu. Setelah datanya terkumpul, kami olah dan lakukan validasi ulang. Jadi kami tidak langsung menyimpulkan seorang anak bermasalah gizi, tetapi kami pastikan dulu melalui proses validasi data sesuai standar,” jelas Marhamah di temui di Puskesmas Batu Ampar pada Kamis (26/11/2025).
Tahapan Validasi dan Intervensi Gizi Terarah
Berdasarkan hasil pengolahan data, Puskesmas menemukan kategori status gizi, mulai dari gizi kurang, berat badan kurang, hingga gizi buruk, serta indikator tinggi badan menurut usia yang pendek, yang menjadi skrining awal potensi stunting. Dari hasil validasi, intervensi langsung di jalankan sesuai kondisi masing-masing anak.
Untuk anak dengan gizi kurang dan berat badan kurang, Puskesmas memberikan edukasi kepada orang tua dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis Posyandu. Sedangkan pada kasus gizi buruk, ditindaklanjuti dengan tata laksana gizi buruk sesuai protokol medis yang lebih intensif.
Pada penanganan stunting, Marhamah menyebut proses intervensinya lebih panjang, namun tetap berjalan terarah dengan dukungan lintas program dan institusi. Salah satu di antaranya adalah kolaborasi Puskesmas Batu Ampar dalam program Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, melalui pendampingan Dokter Spesialis Anak dalam program DSA (Dokter Spesialis Anak). Anak yang terindikasi stunting akan di periksa langsung oleh dokter spesialis untuk menentukan langkah kuratif lanjutan, termasuk pemeriksaan laboratorium.
“Hasil pemeriksaan dari Dokter Spesialis Anak akan kami tindaklanjuti lagi. Ada pemeriksaan lab, lalu diberikan rekomendasi nutrisi medis khusus bila di perlukan berupa PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus). Setiap anak intervensinya berbeda, ada yang dua kali sehari, ada yang dosisnya menyesuaikan kondisi medis dan arahan dari DSA,” papar Marhamah.
Hasil Pemantauan dan Optimisme Penanganan Stunting Puskesmas Batu Ampar
Setelah intervensi makanan tambahan maupun asupan nutrisi medis khusus, balita akan di pantau kembali setiap dua minggu. Marhamah menyampaikan rasa syukur bahwa sejauh ini hasil pemantauan menunjukkan tren perbaikan yang nyata. Baik dari sisi kenaikan tinggi badan maupun berat badan anak.
“Alhamdulillah, dari hasil pantauan per dua minggu itu ada perubahan. Ada peningkatan tinggi, ada juga kenaikan berat, semua menyesuaikan kondisi anak. Ini memang perlu kesabaran dan pendampingan intens, namun kami bersyukur sejauh ini menunjukkan hasil yang semakin membaik,” katanya.
Data terbaru di wilayah Batu Ampar menunjukkan bahwa terdapat 30 anak dengan indikasi gizi kurang dan berat badan kurang, serta tinggi badan menurut usia yang pendek. Dari hasil skrining awal, sebanyak 30 anak yang tervalidasi berisiko stunting mayoritas berada pada usia di atas 1 tahun. Yang kemudian di tindaklanjuti dengan intervensi terarah.
“Total 30 anak kemarin terindikasi kurang gizi, berat badannya kurang, dan yang paling utama adalah tinggi badan menurut umur. Itu adalah skrining awal untuk melihat potensi stunting. Rata-rata usia mereka itu 1 tahun ke atas. Setelah itu kami intervensi, lakukan evaluasi, dan pantau perkembangannya,” ujar Marhamah.
Dengan langkah skrining yang matang dan kolaborasi yang kuat, Puskesmas Batu Ampar optimis mampu memperkuat pengendalian gizi anak di wilayahnya. Upaya jemput data, validasi, edukasi PMT hingga pendampingan nutrisi medis khusus menjadi bukti bahwa puskesmas tidak hanya melayani. Tetapi memimpin gerakan perubahan pola asuh sehat di masyarakat bersama kader dan keluarga.
“Ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tapi kolaborasi orang tua, kader, dan semua pihak. Kami optimis, selama pendampingan dan pola asuh berjalan baik, anak-anak Batu Ampar bisa tumbuh sehat dan optimal. Ini investasi terbaik untuk masa depan generasi kita,” tutupnya dengan senyum penuh optimisme. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






