Kisah Feti Handayani, 21 Tahun Mengabdi, Bidan yang Menemukan Jalan Hidupnya di Puskesmas Batu Ampar

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Langkahnya di dunia kesehatan berawal dari ketidaksengajaan, namun dua dekade lebih kemudian, Feti Handayani justru menjadi salah satu wajah terdepan layanan kebidanan di Puskesmas Batu Ampar. Kini menyandang gelar A.Md. Keb, perempuan ini menapaki profesinya bukan karena obsesi sejak dini, tetapi karena peluang yang ia jalani dengan hati. “Saya masuk di Puskesmas Batu Ampar tahun 2004. Sampai sekarang berarti sudah sekitar 21 tahun,” ujarnya pada Kamis (27/11/2025).

Pendidikan dan Langkah Awal Karier Feti Handayani

Cerita Feti berawal pada 1997, ketika ia bersama teman-teman mendaftar ke Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Balikpapan. Tidak menyangka, namanya justru tercantum dalam daftar siswa yang diterima. “Saya juga bingung bisa terjun di dunia kesehatan. Waktu itu ikut-ikut teman, eh malah keterima. Mau nggak mau ya dijalani,” kenangnya. Tiga tahun pendidikan di asrama tanpa biaya sekolah, kesempatan yang disyukuri orang tuanya, semula sempat membuatnya ingin menyerah.

“Saya sempat mau keluar karena tidak tahan. Tapi orang tua motivasi terus, apalagi kami sekolah itu tidak bayar. Akhirnya saat tingkat dua mulai longgar dan bisa adaptasi, jadi ya dilanjutkan,” katanya. Ia lulus SPK pada tahun 2000, lalu melanjutkan pendidikan di Akademi Kebidanan dan lulus pada 2003.

Setelah lulus, ia sempat bekerja di Poliklinik Ibnu Sina (2004), sebuah persinggahan singkat sebelum akhirnya masuk ke Puskesmas Batu Ampar dengan status THL (Tenaga Harian Lepas) pada 2004–2007.

“Sebenarnya dulu saya mau wirausaha, atau lanjutkan toko ibu saya. Nggak ada dorongan orang tua atau keluarga medis. Semuanya ikut-ikut aja, mengalir begitu,” tuturnya. Namun, alur kehidupan membawanya ke kesempatan lain. Tahun 2007, Feti lolos seleksi PNS, dan hingga kini tetap mengabdi di Batu Ampar sebagai bidan fungsional.

Kedekatan dengan Masyarakat sebagai Inti Pengabdian

Selama 21 tahun jam terbangnya, hal yang paling membekas justru bukan rutinitas di ruang pemeriksaan, melainkan kedekatannya dengan masyarakat. “Sukanya di sini itu kami dekat sekali dengan warga, langsung turun ke lapangan. Bahkan RT se-Batu Ampar kenal semua sama kami, bukan hanya sebagai nakes, tapi seperti keluarga yang sering disapa,” ujarnya.

Bagi Feti, inilah perbedaan utama layanan kebidanan di fasilitas kesehatan primer. Di puskesmas, bidan bukan hanya membantu pemeriksaan antenatal, layanan KB, atau pemantauan balita, tetapi juga menjadi penggerak edukasi kesehatan ibu dan anak, yang efektivitasnya lahir dari pertemuan-pertemuan lintas gang, rumah ke rumah, juga meja-meja Posyandu.

Ia mengakui, kedekatan itu sekaligus jadi tantangan tersendiri. Mengubah perilaku masyarakat terkait gizi, kehamilan, atau pengasuhan bayi tidak seinstan pengobatan klinis, karena butuh penyuluhan berulang, membangun kepercayaan, dan menyentuh keputusan keluarga yang sifatnya personal.

“Tapi ya itu juga yang membuat kami merasa di butuhkan, karena kami jadi bagian dari proses panjang keluarga-keluarga itu,” tambahnya.

Harapan Feti untuk Masa Depan Layanan Kebidanan

Saat di tanya impiannya ke depan, Feti menyampaikan harapan yang sederhana namun jernih. “Semoga saya dan teman-teman di puskesmas tetap sehat, kerjaan semua lancar, dan makin banyak program yang bisa di rasakan warga. Karena sebagai bidan, kepuasan terbesar kami itu ketika masyarakat bukan hanya dengar kami, tapi benar-benar menjalankan edukasi kesehatan,” ucapnya. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *