Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Bekerja sebagai tenaga kesehatan bukan selalu berangkat dari cita-cita masa kecil. Begitulah perjalanan Andiah Murni, A.Md. Kep, pemegang program Penyakit Tidak Menular (PTM) di Puskesmas Margo Mulyo. Di usianya yang kini 31 tahun, ia menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit kronis di masyarakat, mulai dari hipertensi, diabetes, hingga obesitas. Namun siapa sangka, dulu ia justru tidak ingin melanjutkan pendidikan tinggi.
“Saya cita-citanya itu nggak kuliah, capek sekolah, pengennya di rumah aja,” kenangnya sembari tertawa. Namun dorongan orang tua mengubah jalan hidupnya. Ayahnya yang bekerja sebagai sopir bus Damri di Bandara Soekarno-Hatta, khususnya terminal pemulangan TKW, selalu berharap anak-anaknya mendapatkan pendidikan lebih baik.
“Mungkin karena dorongan dari orang tua ingin anak-anaknya sukses, jadi pengen semua kuliah. Saya lima bersaudara, saya anak ketiga, kakak saya bidan, adik saya analis laboratorium,” jelasnya pada Selasa (18/11/2025).
Kesempatan datang saat ia lolos jalur undangan Poltekkes Kemenkes Kaltim berkat nilai rapor, tanpa biaya uang gedung. “Jadi coba-coba aja. Alhamdulillah lolos,” ujarnya.
Jejak Pendidikan dan Awal Karier
Perjalanan pendidikan Andiah dimulai dari SDN 030 Penajam Paser Utara, berlanjut ke SMP 95 Jakarta Utara, SMA Negeri 8 Penajam Paser Utara, hingga menempuh pendidikan di Poltekkes Kemenkes Kaltim dan lulus pada 2015.
Sebelum bergabung dengan Puskesmas Margo Mulyo pada 2019, ia bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara. Namun perubahan ritme kerja membuatnya memutuskan pindah.
“Ada peluang di sini jadi saya pindah. Alasan saya pindah karena saya nggak mau kerja shift-shiftan,” katanya.
Kejutan Dunia Puskesmas: Bukan Sekadar Pelayanan Pasien
Meski beban kerja rumah sakit kerap dianggap berat, menurut Andiah, bekerja di puskesmas justru memberi tantangan berbeda. Bukan hanya melayani pasien, tetapi juga dituntut menyelesaikan administrasi dan pelaporan berlapis.
“Awalnya kaget. Di rumah sakit kan habis pelayanan ya sudah pulang. Kalau di puskesmas, habis pelayanan kita mesti nginput lagi banyak pekerjaan,” ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa banyak pihak mengira tenaga puskesmas santai setelah pelayanan selesai, padahal kenyataannya justru sebaliknya.
“Kita nginput banyak pekerjaan ke banyak aplikasi. Karena aplikasi dari Kementerian Kesehatan itu satu-satu, nggak satu pintu, jadi laporannya banyak,” jelasnya.
Kerja Lapangan Hingga Event Besar
Tugasnya semakin kompleks karena tidak hanya bekerja pada jam pelayanan, tetapi juga harus siap bertugas di luar gedung.
“Kalau pun libur, kita tetap harus standby. Misalnya pagi jaga pelayanan, sore sampai malam jaga di lapangan, seperti konser atau pertandingan sepak bola,” katanya.
Ragam tugas itu membuat pekerjaan tenaga kesehatan puskesmas bukan hanya soal pelayanan klinis, tetapi juga memastikan pencatatan epidemiologis dan siap siaga menjalankan fungsi kesehatan masyarakat.
Mengawal Kesehatan Masyarakat Lewat Program PTM
Sebagai pemegang program PTM, Andiah terlibat dalam kegiatan skrining faktor risiko, penyuluhan, pendampingan pasien kronis, hingga pengelolaan data PTM. Program ini krusial karena penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Meski awalnya tidak memilih jalur kesehatan sebagai mimpi utama, kini Andiah justru berada di garis depan pencegahan penyakit kronis di tingkat masyarakat.
Dari seorang gadis yang ingin berhenti sekolah dan “tinggal di rumah”, hingga menjadi tenaga kesehatan yang aktif di lapangan dan berperan penting dalam program kesehatan nasional, perjalanan Andiah Murni membuktikan bahwa panggilan profesi terkadang ditemukan bukan direncanakan, melainkan dibentuk oleh kesempatan, dorongan keluarga, dan komitmen untuk melayani. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)












