Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Di Puskesmas Batu Ampar, penanganan tuberkulosis (TB) paru bukan hanya urusan diagnosis di meja laboratorium. Ia adalah layanan yang proaktif, kolaboratif, dan menyentuh langsung lingkungan keluarga, agar rantai penularan bisa diputus dari sumbernya sekaligus memberi dukungan moral kepada pasien dan orang-orang yang tinggal di rumahnya.
Analis Laboratorium Kesehatan Puskesmas Batu Ampar, Ida Nurhayati, A.Md, AK, menjadi salah satu ujung tombak di balik gerakan “jemput bola” pelacakan kasus TB. Setiap Sabtu pagi, Ida bersama dokter dan tim perawat turun langsung ke lapangan. Mereka menyusuri rumah ke rumah, mencari dan memetakan kontak serumah pasien positif TB, termasuk memahami risiko yang mungkin dialami keluarga di lingkungan terdekat.
“Saat ini kami sedang melakukan pelacakan pasien TB yang dinyatakan positif. Jadi setiap Sabtu, petugas lab, dokter, dan perawat turun bersama-sama melacak pasien-pasien positif TB,” tutur Ida pada Rabu (26/11/2025).
“Misalnya, di dalam satu rumah ada lima orang, kami akan periksa semua yang kontak satu rumah. Kami tanya apakah ada keluhan batuk, demam, nafsu makan turun, atau sering berkeringat saat malam, karena mereka kontak dekat dengan pasien positif. Dari situlah kami menjaring kemungkinan penularan,” sambungnya.
Tak berhenti pada wawancara awal, tim juga membagikan pot dahak kepada anggota keluarga yang bergejala. Ida menjelaskan, edukasi diberikan langsung di tempat, termasuk praktek pengambilan sampel dahak yang benar, sekaligus arahan untuk pemeriksaan lanjutan di Puskesmas.
“Kami juga memberikan pot dahak, mengedukasi keluarga, lalu kami ajak membawa sampel itu ke puskesmas agar bisa segera diperiksa dan ditindaklanjuti,” ucap Ida.
Menurutnya, angka kasus TB di wilayah Batu Ampar terbilang tinggi. Kondisi ini mendorong puskesmas untuk meningkatkan intensitas pelacakan dan pemeriksaan lanjutan, bukan hanya kepada pasien, tetapi kepada orang-orang di sekitarnya yang berisiko. Langkah ini dinilai ganda manfaatnya: menekan penyebaran penyakit sekaligus meningkatkan kesadaran deteksi dini di masyarakat.
Bicara soal faktor pemicu tingginya penularan, Ida menjelaskan dengan lugas namun tetap solutif, bahwa penyebab TB di Batu Ampar didominasi oleh kondisi lingkungan hunian dan dinamika ekonomi keluarga.
“Faktor penyebab di sini rata-rata berasal dari masyarakat menengah ke bawah, didukung kondisi rumah yang kurang bersih, minim ventilasi, atau dihuni banyak orang dalam satu ruang, sehingga potensi penularannya sangat cepat,” jelasnya.
Namun, alih-alih hanya menyoroti kendala, Puskesmas Batu Ampar menyampaikan rangkaian solusi realistis yang bisa dimulai keluarga di rumah. Pesan yang dibawa tim saat kunjungan bukan untuk menyalahkan kondisi, melainkan memberdayakan keluarga agar mampu bertindak sebagai pelindung pertama kesehatan rumahnya.
Untuk memutus rantai penularan, Puskesmas Batu Ampar menganjurkan pasien menggunakan masker secara konsisten, mengupayakan pemisahan kamar tidur sementara bagi pasien positif, serta membatasi kontak langsung selama fase pengobatan awal.
“Kalau memungkinkan, pasien tidur terpisah kamarnya. Bila ada balita di rumah, kami minta diungsikan sementara ke keluarga lain yang aman dari paparan. Ini semata melindungi anak dari kontak terlalu dekat dengan pasien positif,” terang Ida.
Pendekatan itu diimbangi pesan pemantauan minum obat secara rutin kepada pasien. Sebab, kedisiplinan pengobatan menjadi kunci pengendalian emosi, gejala klinis, dan pemulihan kesehatan jangka panjang.
Ia menilai, perkembangan pasien yang taat minum obat selama ini menunjukkan hasil positif. “Alhamdulillah, kalau obatnya diminum teratur, gejala cepat membaik dan keluarga juga makin paham cara mengawasi serta merawat pasien TB secara benar,” ujarnya.
Pelacakan mingguan setiap Sabtu ini juga menjadi ruang edukasi langsung tentang pentingnya etika kesehatan keluarga: menutup mulut saat batuk, menjaga kualitas udara rumah, dan tidak menunggu diperiksa sampai kondisi berat.
Bagi Puskesmas Batu Ampar, perjuangan melawan TB bukan hanya milik tenaga kesehatan. Ia membutuhkan mitra baru dari rumah tangga dan komitmen lingkungan sosial untuk saling mendukung dan saling mengingatkan.
“Harapan kami, semakin banyak keluarga yang berani antar dahak untuk diperiksa. Ini bukan perkara menerima diagnosis, tapi ikhtiar menjaga orang-orang yang mereka sayangi, agar tidak lagi ada rasa malu saat diperiksa,” pungkasnya dengan nada optimistis.
Melalui langkah deteksi dini, respons cepat, kunjungan lapangan, dan pemantauan pengobatan, Puskesmas Batu Ampar membuktikan bahwa layanan dasar kesehatan bisa menjadi perisai keluarga, bukan hanya tempat berobat, ruang pulih, bukan ruang takut, dan awal perubahan ekosistem hidup sehat warga Batu Ampar. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)









