Soal Kasus Bullying, dr. Aditiya Tekankan Pengawasan Orang Tua dan Kendali Penggunaan Gadget

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Fenomena perundungan atau bullying kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah kasus mencuat di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini turut mendapat sorotan dari Dokter Umum Puskesmas Margo Mulyo, dr. Aditiya Setyorini, yang menilai bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun, termasuk verbal dan psikologis dapat meninggalkan luka mendalam bagi anak-anak.

Ia menjelaskan bahwa bullying bukanlah sekadar ejekan atau candaan yang berlebihan. Perilaku tersebut merupakan bentuk kekerasan psikis yang bisa mengubah cara anak memandang dirinya sendiri, bahkan memengaruhi tumbuh kembang mental mereka dalam jangka panjang.

“Bullying itu bagian dari kekerasan psikis. Sekarang kasusnya banyak, jadi baik orang tua maupun guru harus memberi batasan pada apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan atau dilakukan,” tuturnya, Rabu (26/11/2025)

Menurut dr. Aditiya, langkah pencegahan terbaik dimulai dari rumah. Komunikasi yang hangat dan terbuka antara orang tua dan anak menjadi benteng awal yang penting. Dengan merasa didengar, dihargai, dan dipahami, anak akan lebih mudah menyampaikan keluhan jika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di sekolah atau lingkungan bermain.

Ia juga menyoroti peran besar teknologi dalam membentuk karakter anak. Gadget dan media sosial, katanya, bisa menjadi sarana positif sekaligus sumber risiko, terutama ketika anak terpapar konten atau interaksi yang mengarah pada perundungan.

“Soal gadget, sebenarnya kembali lagi pada kemampuan kita sebagai orang tua untuk menyaring. Pengawasan tetap harus dilakukan, termasuk mengontrol media sosial anak,” tegasnya.

Dirinya menambahkan bahwa kebebasan anak dalam mengakses teknologi perlu disertai arahan dan pendampingan, agar mereka tidak terjebak menjadi korban ataupun pelaku bullying di dunia digital.
Selain keluarga, sekolah juga memegang peranan besar dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Guru dan tenaga pendidik diharapkan mampu membangun budaya saling menghargai, mengenali tanda-tanda anak yang mulai menarik diri, atau menunjukkan perilaku agresif yang bisa mengarah pada tindakan perundungan.

Dr. Aditiya berharap adanya sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga dalam mengatasi masalah bullying. Kolaborasi ini dianggap penting untuk menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman, aman, dan mendukung perkembangan emosional anak.

“Kalau orang tua dan sekolah bisa berjalan beriringan, anak-anak akan punya ruang aman untuk tumbuh tanpa rasa takut. Itu yang terpenting,” ujarnya.

Dengan meningkatnya kesadaran bersama, ia optimistis kasus bullying dapat ditekan dan anak-anak dapat tumbuh sebagai generasi yang lebih empati, saling menghargai, dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *