Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Di Puskesmas Batu Ampar, usia senja tidak dimaknai sebagai fase rentan yang harus dijalani sambil menunggu, tetapi sebagai siklus kehidupan yang tetap berhak mendapatkan layanan kesehatan yang terstandar, hangat, dan bermartabat. Di bawah pengampu Program Kesehatan Lansia, Puskesmas Batu Ampar secara aktif melaksanakan skrining kesehatan tahunan, baik di dalam gedung maupun di luar gedung, sebagai ikhtiar menjaga kualitas hidup para orang tua di wilayah tersebut.
Penanggung jawab program, Nurrahimah, A.Md, Kep, menuturkan bahwa skrining di dalam gedung dilakukan kepada lansia yang datang memeriksakan kesehatannya di Puskesmas. Uniknya, skrining lansia hanya dihitung satu kali dalam satu tahun, meskipun kunjungan mereka bisa dilakukan berkali-kali.
“Kalau lansia, kami melaksanakan skrining kesehatan di dalam dan luar gedung. Untuk yang datang ke Puskesmas, skriningnya tetap satu tahun satu kali. Jadi masuk di database itu hanya sekali setahun. Kalau mereka sering berkunjung, kami tetap layani. Tapi yang terdata skrining resmi tetap hanya sekali saja,” ungkap Nurrahimah pada Rabu (26/11/2025).
Adapun paket pemeriksaan skrining yang diberikan mengacu pada instrumen SKILAS (Skrining Kesehatan Lansia), yang menilai kesehatan dari sisi medis, fungsional, dan kemandirian. Sejumlah parameter yang diperiksa antara lain gula darah, kolesterol, dan asam urat secara gratis, disertai pemeriksaan pendengaran, ketajaman penglihatan, serta penilaian aktivitas daily living (ADL) untuk menentukan apakah seorang lansia masih mandiri dalam menjalani kesehariannya atau memerlukan bantuan.
Dari hasil pemantauan di Batu Ampar, kolesterol menjadi permasalahan yang paling sering ditemukan pada lansia. Nurrahimah menyebut, ada faktor yang sangat manusiawi di baliknya: perubahan sensitivitas rasa di usia senja.
“Kebanyakan lansia di Batu Ampar itu rata-rata kolesterol. Kenapa? Karena lansia itu mau makannya yang enak-enak, apalagi lidah mereka sudah tidak terlalu peka terhadap rasa. Makanan yang gurih-gurih, seperti daging kambing atau olahan berlemak, jadi lebih menarik buat mereka,” jelasnya.
Namun, education talk yang dibangun Puskesmas Batu Ampar tidak dimaksudkan untuk melarang, melainkan mengarahkan tanpa menghakimi, mengedukasi tanpa menakut-nakuti. Dalam setiap sesi skrining dan penyuluhan, pesan yang digaungkan selalu kembali ke inti pola hidup sehat lansia: memilih makanan yang lebih sederhana dan menyehatkan, serta menjaga tubuh tetap aktif.
“Anjurannya kembali ke makanan sehat, rebus-rebusan untuk lansia, serta aktivitas fisik biar tetap sehat. Kami ingin lansia tetap menikmati hidup, tapi dengan pilihan yang lebih ramah bagi tubuhnya,” tambah Nurrahimah.
Puskesmas Batu Ampar juga terus mendorong skrining di luar gedung, seperti saat turun ke kegiatan komunitas, Posyandu lansia, hingga kolaborasi lintas program lain di masyarakat. Langkah ini sejalan dengan komitmen Puskesmas untuk menguatkan promotif dan preventif, agar pencegahan penyakit bisa dilakukan sebelum menjadi komplikasi yang mengganggu kemandirian lansia.
Bagi Nurrahimah, keberhasilan skrining bukan hanya tercermin dari angka terkumpul di sistem, tetapi juga dari lebih banyak lansia yang memahami kondisi tubuhnya, mulai mengubah kebiasaan makan bertahap, dan menyadari pentingnya menjaga kemandirian fungsi harian.
Tagline besar HKN “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat,” menurutnya tidak hanya relevan bagi remaja, tetapi juga lansia. Sebab masa depan keluarga yang hebat masih membutuhkan peran orang tua yang sehat, aktif, dan dihargai oleh lingkungannya.
Skrining SKILAS di Batu Ampar menjadi bukti bahwa layanan kesehatan yang baik memberi ruang dialog, bukan sekadar diagnosis; memberi rasa aman, bukan sekadar angka normal; dan memberi perhatian, bukan hanya obat rujukan.
Dengan langkah kecil yang rutin dan terukur, Puskesmas Batu Ampar menaruh asa besar: lansia tetap sehat, tetap mandiri, dan tetap bahagia, mereka bukan beban, tetapi fondasi keluarga yang harus dijaga hingga akhir hayatnya. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






