Tantangan Hidup Usia Produktif jadi Faktor Pencetus ODGJ di Batu Ampar

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Gangguan kesehatan jiwa yang dialami sejumlah warga di wilayah Batu Ampar tidak muncul begitu saja. Ia seringkali dipicu oleh akumulasi tekanan hidup di usia produktif, terutama yang menyentuh ranah karier dan pencapaian personal. Hal itu disampaikan Nurrahimah, A.Md, Kep, Pemegang Jabatan (Pj) Kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Batu Ampar, saat ditemui untuk memetakan pola penyebab pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) di wilayah tersebut.

“Faktor pencetus seseorang menjadi ODGJ, khususnya pasien laki-laki, yang paling sering kami temukan adalah masalah karier,” ungkap Nurrahimah pada Rabu (26/11/2025).

Tekanan itu, katanya, datang dalam berbagai bentuk: impitan target di dunia kerja, tidak adanya perkembangan karier, hingga perasaan tak dihargai atau gagal memenuhi ekspektasi diri sendiri.

Selain itu, ada pula pasien yang terpukul karena perjalanan pendidikannya terhenti. “Ada juga yang kuliahnya putus di tengah jalan, tidak kesampaian. Hal itu jadi beban batin tersendiri, apalagi saat dia sudah menaruh harapan besar sejak awal,” terangnya.

Pola lain yang turut memicu, menurut Nurrahimah, adalah ketidaksesuaian antara pekerjaan dan standar ideal pribadi. “Misalnya, ada yang perfeksionis. Dia punya standar kerja yang sangat tinggi, harapannya tinggi, tapi realitas pekerjaannya tidak sesuai gambaran yang dia impikan. Orang yang perfeksionis ini biasanya lebih rentan tertekan, karena saat ada sedikit hal yang meleset, itu terasa seperti kegagalan besar bagi dirinya,” jelasnya dengan rinci.

Meski pencetusnya sering berangkat dari faktor karier atau pendidikan, masyarakat justru diajak melihat persoalan ini secara empatik dan solutif, bukan menghakimi. Gangguan jiwa, dalam banyak kasus, diawali oleh gejala yang dapat dikenali. Nurrahimah menjelaskan tanda-tanda awal yang kerap ditemukan keluarga pasien: mulai dari berbicara sendiri seolah ada lawan bicara, hingga mendengar suara bisikan-bisikan yang tak didengar orang lain. “Ada yang kalau di rumah itu ngomong sendiri seperti ada teman ngomong, ada juga yang sering mendengar suara bisikan, itu salah satu gejala awal yang perlu jadi perhatian keluarga dan lingkungan,” katanya.

Nurrahimah menegaskan bahwa Puskesmas Batu Ampar secara rutin melakukan skrining, rujukan, hingga kunjungan rumah untuk memastikan pasien dan keluarga tidak berjalan sendirian. Yang membesarkan hati, lanjutnya, respons keluarga sering kali positif.

“Sejauh ini, Alhamdulillah kami justru disambut baik oleh keluarganya. Mereka merasa anak, suami, atau saudaranya diperhatikan. Karena orang dengan kondisi seperti ini sering mengalami pengucilan di masyarakat, kehadiran kami membuat keluarga dan pasien merasa dipedulikan. Banyak yang berterima kasih karena akhirnya ada ruang cerita dan pendampingan,” paparnya.

Pendampingan ini berdampak ganda. Bagi pasien, ia memberi akses pengobatan dan kontrol emosi. Bagi keluarga, ia menghadirkan pemahaman baru tentang pendampingan minum obat, pola komunikasi yang menenangkan, dan kesiapsiagaan menghadapi kekambuhan.

Dengan pemetaan penyebab yang semakin jelas, Puskesmas Batu Ampar berharap masyarakat makin peka terhadap kesehatan jiwa, terutama di usia produktif yang dekat dengan tekanan karier dan cita-cita.

“Harapannya, kegiatan pendampingan ini terus berlanjut, karena sangat banyak manfaatnya. Kami ingin menyampaikan bahwa ODGJ bukan akhir dari cerita, pemulihan itu ada, selama ada dukungan keluarga, layanan medis, dan kepedulian lingkungan,” tutup Nurrahimah penuh harap.

Komitmen Puskesmas Batu Ampar lewat Program Keswa membawa pesan penting: deteksi lebih dini, pencegahan lebih kuat, pendampingan lebih dekat, dan pemulihan berjalan bersama tanpa stigma, dengan perhatian, dan dengan semangat bangkit. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *