Puskesmas Batu Ampar Bagikan Tips PHBS untuk Cegah Cacingan

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Di lorong-lorong pemukiman Batu Ampar, wajah-wajah kecil dengan tawa yang riuh menjadi pemandangan paling hidup. Namun di balik keriangan itu, ada ancaman kesehatan yang sering dianggap sepele: kecacingan pada anak, penyakit infeksi yang diam-diam menggerogoti tumbuh kembang, konsentrasi belajar, dan kualitas kesehatan generasi masa depan.

Meski program pemerintah menyediakan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM), Puskesmas Batu Ampar bukan sekadar mengandalkan obat sebagai jawaban tunggal. Bagi mereka, perubahan perilaku lewat edukasi PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) adalah akar pencegahan yang paling kuat, berkelanjutan, dan menembus jauh hingga ke rumah-rumah warga.

Pemegang Program POPM sekaligus penanggung jawab intervensi pencegahan kecacingan, Wibiatika Ayu, A.Md, Kep, menegaskan bahwa pendekatan berbasis edukasi harus berjalan seiring dengan program massal.

“Obat itu membuka gerbang pencegahan, tapi kebiasaan bersih itu yang jadi perisainya. Kalau perilakunya tidak dibenahi, potensi cacingan bisa kembali muncul,” ujar Ayu saat ditemui di Puskesmas Batu Ampar, Rabu (26/11/2025).

Kebiasaan yang Menjadi Pemicu
Menurut Ayu, kecacingan pada anak sebenarnya sangat erat kaitannya dengan rutinitas sehari-hari, bukan sekadar soal akses obat. Ia menyoroti kebiasaan yang paling sering menjadi pencetus: anak bermain, lalu makan tanpa cuci tangan.

“Anak-anak ini kan sedang aktif bermain, eksplorasi banyak hal. Kadang habis main, nggak mau cuci tangan, langsung makan. Nah ini salah satu faktor yang paling sering jadi pencetus. Maka selain obat, edukasi PHBS selalu kami ketuk pintunya, baik di posyandu maupun di kelas-kelas ibu,” jelasnya.

Ia menambahkan, tidak hanya tangan yang rentan menjadi perantara telur cacing, tetapi juga kebiasaan buang air besar sembarangan, kuku panjang yang jarang dipotong, tidak pakai alas kaki saat bermain tanah, serta kurangnya kebersihan makanan dan minuman di rumah.

Menyambut program POPM, Ayu mengungkapkan bahwa pemberian obat juga didampingi pencatatan detail untuk memastikan tidak ada anak yang mengonsumsi dua kali dosis dalam periode yang sama, termasuk jika orang tua telah memberikan obat secara mandiri di luar program pemerintah.

Ayu merespons fenomena orang tua yang kadang membeli obat cacing sendiri dengan sikap terbuka dan profesional.

“Kalau orang tua beli obat cacing sendiri itu nggak apa-apa sebenarnya. Tapi dari pemerintah juga sudah ada obatannya dengan standar dosisnya. Misalnya anak sudah minum obat sendiri, kami tidak berikan lagi saat POPM, supaya tidak terjadi tumpang tindih dosis yang bisa berbenturan,” imbuhnya.

Pendekatan ini mencerminkan bahwa intervensi POPM di Puskesmas Batu Ampar dilaksanakan secara manusiawi sekaligus profesional, tetap mengedepankan keselamatan pasien, kontrol dosis, dan standar kesehatan nasional.

Menurutnya, POPM memberi manfaat cepat, tetapi PHBS memberi dampak panjang: anak sehat, keluarga waspada, lingkungan terjaga.

Puskesmas Batu Ampar kini mendorong paradigma baru di masyarakat: pencegahan bukan tentang seberapa sering obat diminum, tetapi seberapa konsisten kebiasaan bersih dijalankan.

Karena di rumah, tangan anak yang bersih, kuku yang terpotong, makanan yang tertutup, serta pengawasan ibu dan pengasuh yang paham PHBS, adalah penghalang paling efektif dari telur cacing yang siap menular.

“Harapan kami sederhana: anak-anak Batu Ampar tetap bisa bermain aktif, tapi dengan kebiasaan bersih yang otomatis. Mencuci tangan bukan lagi perintah, tapi kebutuhan yang mereka rasakan sendiri,” tutup Ayu.

Di Batu Ampar, anak sehat dimulai dari langkah kecil yang bersih. Obat membuka pintu pencegahan, tetapi kebiasaan yang menjaga mereka pulih dari risiko setiap hari, di setiap rumah, di setiap genggaman tangan yang bersih. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *