POPM Puskesmas Batu Ampar: Aksi Serentak Lindungi Anak dari Cacingan, 77 Kader Jadi Garda Terdepan

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Upaya Puskesmas Batu Ampar dalam menghadirkan generasi yang sehat dan bugar semakin menguat lewat pelaksanaan Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Cacingan, sebuah inisiatif nasional dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dirancang untuk mencegah infeksi cacing secara serentak pada anak.

Pemegang Program POPM Puskesmas Batu Ampar, Wibiatika Ayu, A.Md, Kep, menjelaskan bahwa POPM adalah program tahunan Kemenkes yang berfokus pada pemberian obat pencegahan massal khusus untuk cacingan (helminthiasis) pada kelompok usia 12 bulan hingga 12 tahun.

“POPM ini khusus untuk cacingan. Setiap tahun dilaksanakan dua kali, tiap enam bulan, sesuai instruksi Kemenkes, pada bulan Februari dan Agustus. Dosisnya disesuaikan usia, 12–23 bulan setengah tablet, sementara 24 bulan sampai 12 tahun satu tablet,” jelas Ayu saat ditemui di Puskesmas Batu Ampar pada Rabu (26/11/2025).

Meski jumlah kasus cacingan di wilayah Batu Ampar tidak banyak, Ayu menegaskan bahwa program ini tetap dijalankan konsisten sebagai langkah preventif jangka panjang. Ini menjadi bentuk komitmen, bahwa upaya pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan, terutama bagi anak-anak yang sedang berada dalam fase emas pertumbuhan.

Puskesmas Batu Ampar tidak sendirian dalam menjalankan POPM. Di balik tingginya cakupan dan kelancaran distribusi obat, terdapat jejaring 77 kader kesehatan aktif yang tersebar di setiap RT, menjadi ujung tombak pelaksanaan program di masyarakat.

“Saya bekerja sama dengan 77 kader di tiap RT. Setiap droppingan obat, kader mengambil ke puskesmas, lalu membagikannya di Posyandu saat jadwal penimbangan dan layanan rutin. Peran mereka luar biasa, karena ini program massal, jadi harus dijalankan bersama garda masyarakat juga,” ujar Ayu penuh apresiasi.

Selain di Posyandu, POPM juga menyasar sekolah-sekolah. Untuk tingkat SD, pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sementara di PAUD dan TK, program berjalan berdampingan dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan tenaga kesehatan yang membina di masing-masing institusi pendidikan.

“Kalau SD kami barengi dengan CKG. Kalau PAUD dan TK, kami koordinasi dengan pemegang program UKS, sehingga edukasi dan pemberian obat bisa dilakukan sekaligus dalam suasana yang ramah anak,” tambahnya.

Meski bersifat pemberian obat pencegahan massal, Puskesmas Batu Ampar juga menekankan aspek edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai akar pencegahan.

Ayu menyoroti bahwa salah satu faktor pencetus cacingan pada anak adalah kebiasaan tidak cuci tangan setelah bermain, lalu langsung makan.

“Anak-anak ini kan sedang aktif bermain, banyak eksplorasi. Kadang habis main, nggak mau cuci tangan, lalu makan. Nah ini salah satu faktor yang paling sering jadi pencetus. Maka selain obat, edukasi PHBS selalu kami ketuk pintunya, baik di posyandu maupun di kelas-kelas ibu,” jelasnya.

Kelas ibu hamil yang rutin digelar Puskesmas Batu Ampar juga menjadi medium strategis untuk menyampaikan pesan ini kepada orang tua dan pengasuh, agar pencegahan dimulai dari kebiasaan di rumah.

Ayu juga merespons fenomena orang tua yang kadang membeli obat cacing secara mandiri di luar fasilitas pemerintah.

“Kalau orang tua beli obat cacing sendiri itu nggak apa-apa sebenarnya. Tapi kalau dari pemerintah juga sudah ada obatan standarnya. Misalnya anak sudah minum obat sendiri, kami tidak berikan lagi saat POPM, supaya tidak terjadi tumpang tindih dosis yang bisa berbenturan,” imbuhnya.

Pendekatan ini mencerminkan pelayanan yang manusiawi dan profesional, memastikan program pencegahan tetap aman, terkontrol, dan sesuai standar kesehatan nasional.

Melalui strategi kolaborasi lintas layanan, pemberdayaan kader, edukasi PHBS, dan penjadwalan yang terintegrasi di sekolah hingga Posyandu, POPM di Batu Ampar bukan hanya pembagian obat—tetapi sebuah gerakan kesehatan komunitas.

“Kami berharap program ini terus berjalan rutin. Karena mencegah cacingan itu bukan soal banyak atau sedikit kasus, tapi ini tentang menjaga anak-anak tumbuh sehat tanpa gangguan infeksi yang bisa menghambat perkembangan mereka,” tutup Ayu optimistis. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *