Monica Ratna Sari, A.Md, Keb: Dari Ketakutan Melihat Darah hingga Menemukan Panggilan Merawat Sesama di Puskesmas Batu Ampar

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Ada cerita kemanusiaan di balik seragam putih bidan yang dikenakan Monica Ratna Sari. Perempuan 34 tahun ini kini mengabdi sebagai bidan formasi umum di Puskesmas Batu Ampar, tetapi jalan hidupnya menuju dunia kebidanan ternyata jauh dari rencana awal.

“Saya dulu tidak mau jadi bidan, karena saya paling takut dengan darah,” ujarnya saat ditemui di kantornya pada Rabu (26/11/2025).

Cita-cita masa mudanya justru tertuju pada bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), yang menurutnya “keren dan gagah dengan sepatu safety.”

Namun, dorongan orang tua perlahan membentuk keputusannya. Ibunya sempat memberi keyakinan bahwa bidan tidak akan selalu memegang pasien. “Ternyata realitanya beda. Bidan justru banyak bersentuhan langsung dengan pasien,” katanya sambil tersenyum.

Ia pun akhirnya memilih pendidikan kebidanan di Akademi Kebidanan Borneo Medistra dan lulus pada 2012. Setahun setelahnya, 2013 menjadi titik awal karier Monica sebagai bidan di Puskesmas Penajam, tempat ia mengabdi selama lima tahun.

Karier Monica sempat berhenti ketika sang ibu didiagnosis kanker. Ia memilih fokus merawat orang tuanya, sebuah keputusan yang ia percaya sebagai bagian dari alur hidup yang telah dipersiapkan.

“Tiga bulan setelah berhenti, saya justru dapat panggilan kerja di RS Restu Ibu,” tuturnya. Di rumah sakit tersebut, ia bertugas selama tujuh tahun, mengasah keterampilannya untuk menangani layanan maternal dan emergensi medis, sekaligus menguatkan mentalnya menghadapi hal yang dulu ia takuti: darah, tindakan, dan kondisi pasien yang membutuhkan penanganan cepat.

Tahun 2023, dorongan dari rekan kerjanya di Penajam membawanya mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Ia pun lolos seleksi, dan memilih formasi bidan umum di Batu Ampar yang saat itu hanya membuka satu kuota untuk formasi umum.

Monica mulai bertugas di Puskesmas Batu Ampar pada April 2024, sebuah keputusan yang juga didorong oleh faktor kedekatan jarak dari rumahnya, sehingga ia tetap bisa menjalankan perannya merawat ibu.

“Disini saya tinggal meluncur, rumah dekat. Saya bisa kerja sambil tetap merawat orang tua. Mungkin ini memang sudah dipersiapkan,” katanya.

Atmosfer Pelayanan Kekeluargaan yang Menguatkan
Bekerja di puskesmas, menurut Monica, justru lebih banyak menghadirkan pengalaman manis dibanding tekanan. Yang paling ia syukuri adalah lingkungan kerja yang suportif.

“Suasana kerja disini asik. Kekeluargaannya keren sekali, saling membantu, nggak ada yang merasa bersaing,” ujarnya.

Pelayanan di puskesmas juga membuatnya merasa dekat dengan masyarakat, mulai dari pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan darurat, imunisasi bayi, hingga edukasi pada ibu muda.

Harapan: Belajar, Berkembang, dan Mengayomi
Meski masih tergolong baru di Puskesmas Batu Ampar, Monica memiliki visi yang jelas baik untuk layanan maupun pertumbuhan dirinya.

“Semoga Puskesmas Batu Ampar makin sukses, saya juga semakin sukses dan makin banyak belajar,” katanya.

Ia berharap layanan primer tetap menjadi ruang yang mengayomi keluarga, terutama ibu dan anak, sekaligus mendukung tenaga kesehatan agar terus berkembang.

Kisah Monica Ratna Sari menjadi salah satu potret bagaimana profesi kebidanan tidak hanya soal keahlian teknis, tetapi juga tentang keberanian melampaui ketakutan pribadi, empati yang tumbuh dari pengalaman merawat keluarga sendiri, dan komitmen menghadirkan layanan kesehatan yang terasa hangat bagi masyarakat. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *