Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Di pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas, perawat punya peran jauh melampaui bilik pemeriksaan. Mereka menjadi penghubung antara sistem kesehatan dan denyut kehidupan masyarakat. Di Puskesmas Batu Ampar, sosok itu terlihat pada Wibiatika Ayu, A.Md. Kep, perawat yang memilih jalan kesehatan lewat dorongan keluarga, lalu bertahan karena cinta pada pelayanan lapangan dan kemanusiaan.
“Waktu SMA saya nggak sempat kepikiran mau masuk kesehatan. Dulu saya anak IPA, dan kalau IPA jalurnya biasanya ke kesehatan. Ibu mendukung juga, akhirnya saya coba Poltekkes,” ungkap Wibiatika saat ditemui di sela aktivitas pada Rabu (26/11/2025).
Ia merupakan lulusan Poltekkes Kemenkes Kaltim, kampus vokasi kesehatan yang membentuk akarnya sebagai perawat kompeten di level klinis maupun promotif-preventif.
Dari Rumah Sakit ke Layanan Primer
Sebelum mengabdi di puskesmas, Wibiatika meniti karier selama tiga tahun di RS Bhayangkara, mengasah keterampilan perawatan klinis, kedisiplinan, dan kecepatan dalam menangani pasien.
“Tiga tahun kerja, terus nyoba tes PNS. Alhamdulillah lolos,” katanya. Kalimat singkat itu menyimpan perjalanan besar — dari tenaga honorer rumah sakit, memantapkan diri ikut seleksi, hingga akhirnya mengenakan seragam aparatur sipil negara dan langsung ditempatkan di Puskesmas Batu Ampar untuk layanan kesehatan komunitas.
Menemukan Makna saat Turun ke Warga
Bagi Wibiatika, hal paling ia sukai justru bukan rutinitas ruangan, melainkan kerja lapangan yang mempertemukannya langsung dengan masyarakat.
“Sukanya jadi lebih banyak ketemu warga, lebih banyak kenal orang, termasuk karakternya. Kita juga belajar banyak soal gimana menghadapi orang,” tuturnya.
Ia kerap terlibat dalam kegiatan skrining kesehatan, edukasi, pemantauan program, hingga kunjungan rumah pasien (home care). Lewat pendekatan jemput bola, ia merasa bisa melihat persoalan kesehatan dalam konteks keluarga dan lingkungan, bukan sekadar gejala sesaat.
Lelahnya Multiperan, Beratnya Multilaporan
Tantangan utama yang ia rasakan sebagai nakes puskesmas adalah beban program dan pelaporan lintas aplikasi yang menuntut ketelitian dan konsistensi, bahkan sering dikerjakan setelah jam pelayanan selesai ataupun saat hari libur.
“Kalau dukanya ya memang programnya banyak. Capek? Ya dijalani aja dengan senang,” katanya lagi, dengan nada ringan — tetapi jelas menyimpan keteguhan hati.
Ia turut menyoroti sistem input laporan yang belum terintegrasi satu pintu, menyebabkan seorang tenaga kesehatan bisa memegang lebih dari tiga program sekaligus.
“Jujur satu orang bisa lebih dari tiga program. Saya pengennya nanti ke depan bisa one person, one program biar fokus. Kalau banyak orang yang gabung juga, kerjanya bisa dibagi,” jelasnya.
Berharap Fokus Kerja Tanpa Kehilangan Empati
Wibiatika berharap, semakin banyak tenaga perawat dan nakes lain yang bergabung di puskesmas agar beban program bisa lebih merata, dan pelayanan kepada masyarakat tetap hangat serta optimal.
“Semoga saya terus diberi kesehatan. Dan puskesmas makin banyak orangnya, biar program bisa dibagi. Karena kalau fokus satu program, dampaknya ke masyarakat juga bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Tak lupa, ia mengapresiasi dukungan internal puskesmas yang menurutnya solid dalam tim. Relasi kerja yang saling membantu membuat pekerjaannya tetap bermakna meski kompleks. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






