Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Menjadi dokter gigi bukan awal mimpi Puji Astuti. Namun, perjalanan yang ia sebut sebagai “kecemplung karena rezeki dan restu orang tua” justru mengantarkannya pada 15 tahun pengabdian di layanan kesehatan primer, merawat kesehatan mulut masyarakat dari anak hingga lansia.
Puji tumbuh di keluarga pendidik. Kedua orang tuanya merupakan PNS sebagai guru, sementara kakaknya lebih dulu menekuni hukum. Selepas SMA, ia diarahkan orang tua untuk mencoba jalur kedokteran, bidang yang sebelumnya tidak ada dalam silsilah profesi keluarganya.
“Dulu maunya langsung kerja kantoran. Tapi orang tua suruh coba ke kedokteran, kebetulan juga kakak saya jurusan hukum, jadi saya diminta isi yang lain,” ceritanya saat ditemui di Puskesmas Batu Ampar pada Rabu (26/11/2025).
Kesempatan itu datang melalui pendaftaran Universitas Hasanuddin Makassar jalur kerja sama penerimaan anak daerah. Dari ratusan pendaftar, 10 orang dinyatakan lolos. Dari Balikpapan, hanya tiga yang diterima, dan Puji adalah satu di antaranya, diterima di jurusan Kedokteran Gigi bersama dua rekannya.
“Waktu itu saya masuk karena rezeki. Yang lolos dari Balikpapan bertiga,” katanya. Kalimat sederhana itu menyimpan dinamika besar: berpindah kota, menyesuaikan diri menjadi mahasiswa kesehatan, dan melampaui rencana awalnya yang ingin bekerja di posisi administratif.
Dari PTT yang Tertunda, ke Seragam Putih ASN
Tahun 2010, Puji menyelesaikan pendidikan kedokteran gigi. Selepas kelulusan, ia memilih memperkaya jam terbang lewat praktik mandiri di berbagai daerah. Terjun klinis langsung membuatnya sadar, dokter gigi bukan sekadar estetika gigi rapi, tapi rangkaian tindakan medis terukur: tambal, cabut, scaling, hingga edukasi kesehatan gigi berulang pada orang tua dan anak.
Saat itu, gelombang penerimaan PNS besar-besaran dibuka. Pemerintah Kota Balikpapan mencari 10 dokter gigi, peluang yang sebenarnya sempat ia ragukan karena ia ingin mengambil jalur PTT di luar daerah.
“Saya awalnya nggak mau, maunya cari PTT di luar. Tapi orang tua nggak mau karena saya perempuan, nggak boleh jauh, ya sudah saya coba dengan ‘Bismillah’… Alhamdulillah lolos,” ujar Puji.
Ia pun ditempatkan di Puskesmas Baru Ulu (2010–2018). Delapan tahun di sana menempa kapasitas klinis, data pelaporan, sekaligus soft skill komunikasi pasien. Tahun 2018, ia dimutasi ke Puskesmas Batu Ampar — wilayah yang saat itu kosong dokter gigi, sehingga ia ditugaskan untuk mengisi formasi tersebut pada September 2018.
“Waktu itu disini kosong dokter gigi. Saya dipindah dan alhamdulillah dekat rumah,” katanya. Bagi Puji, kembali bertugas di lingkungan yang memungkinkan ia pulang setiap hari adalah karunia tersendiri, selaras dengan restu orang tuanya sejak awal karier.
Harapan Seorang Ibu di Balik Stetoskop dan Dental Set
Selain dokter, Puji kini adalah seorang ibu dari anak-anak yang menjadi prioritas doanya.
“Harapan utama saya kalau bisa sehat semua. Anak-anak saya juga sehat dan bisa sukses, melebihi orang tuanya,” ujarnya.
Baginya, pekerjaan sebagai dokter gigi di puskesmas adalah alur hidup yang menyatu dengan peran personal sebagai anak dan ibu. Menjaga kesehatan masyarakat, merawat keluarga sendiri, dan meniti karier tanpa meninggalkan nilai dekat-rumah menjadi definisi keseimbangan yang ia syukuri.
Di Puskesmas Batu Ampar, drg. Puji Astuti bukan hanya mengisi kursi dokter gigi yang sempat kosong — ia mengisi kepercayaan masyarakat dengan tindakan profesional, edukasi sabar, dan integritas pelayanan. Perjalanannya membuktikan bahwa arah hidup bisa berubah, tetapi panggilan merawat sesama yang dijalani dengan hati akan selalu menemukan makna dan penerimanya sendiri. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






