Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Di wilayah Puskesmas Batu Ampar, upaya pemulihan kesehatan jiwa terus dihadirkan melalui layanan terarah dan tanpa stigma. Sebanyak 21 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) saat ini berada di bawah pemantauan rutin Puskesmas Batu Ampar setiap bulannya. Dari jumlah tersebut, mayoritas pasien adalah laki-laki, dengan usia rata-rata di atas 30 tahun, meski beberapa di antaranya ada yang berusia lebih muda.
Pemegang Jabatan (Pj) Kesehatan Jiwa Puskesmas Batu Ampar, Nurrahimah, A.Md, Kep, menegaskan bahwa data ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari langkah pendampingan yang terus hidup dan hadir di tengah masyarakat.
“Kalau yang rutin kami kunjungi itu ada 21 orang setiap bulan. Mayoritas ODGJ memang laki-laki. Usianya rata-rata di atas 30 tahun. Ada juga yang lebih muda, tapi yang lebih banyak memang 30 tahun ke atas,” ungkap Nurrahimah saat diwawancarai pada Rabu (26/11/2025).
Nurrahimah menjelaskan, layanan yang diberikan bersifat berkelanjutan, mencakup pemantauan kesehatan, pengawasan keteraturan minum obat, hingga edukasi khusus bagi keluarga pasien. Meskipun obat gangguan jiwa belum tersedia di Puskesmas tingkat pertama, Puskesmas Batu Ampar memiliki alur rujukan yang jelas agar pasien tetap mendapat pengobatan di fasilitas kesehatan lanjutan. Namun, peran Puskesmas tidak berhenti di sana. Tim tetap memastikan pendampingan di rumah berjalan rutin melalui kunjungan berkala, terutama bagi pasien yang sebelumnya mengalami kendala dalam kepatuhan pengobatan.
“Selain rutin berobat, kami juga ada kunjungan ke rumah untuk memantau perkembangan dan memastikan minum obatnya teratur. Kami juga mengedukasi keluarga, karena perawatan ODGJ itu spesial, butuh perawatan yang juga spesial,” jelasnya.
Pendekatan berbasis keluarga ini menjadi kuncinya. Setiap keluarga pasien diajak memahami fase dan pola pendampingan yang benar, mulai dari bagaimana mengingatkan jadwal minum obat, mengenali tanda kekambuhan, sampai cara komunikasi yang adaptif dan menenangkan agar pasien tidak merasa tertekan. Nurrahimah menyebut bahwa keterlibatan emosional keluarga memberi dampak besar dalam proses pemulihan.
“Kalau pengobatan dijalani rutin, emosi pasien bisa terkontrol. Banyak sekali progress yang kami lihat dari kunjungan rumah ini. Yang awalnya tidak teratur minum obat, sekarang jadi lebih tertib dan terjadwal. Termasuk keluarga yang awalnya belum paham soal pengawasan obat, sekarang sudah lebih mengerti dan sigap mendampingi,” paparnya dengan penuh optimisme.
Perubahan itu terlihat nyata dalam dinamika harian pasien. Beberapa keluarga yang sebelumnya sempat ragu dan cemas, kini mulai mampu menjadi sistem pendukung utama di rumah. Mereka paham bahwa penanganan kesehatan jiwa membutuhkan konsistensi, bukan hanya belas kasih. Banyak pasien yang kini menunjukkan emosi lebih stabil, durasi kekambuhan yang menurun, hingga kemampuan bersosialisasi yang meningkat.
Data 21 ODGJ ini juga menjadi salah satu dasar penguatan program internal Puskesmas. Dengan intervensi rutin, skrining lanjutan kepada anggota keluarga, serta koordinasi intensif dengan faskes rujukan, Puskesmas Batu Ampar menempatkan isu Keswa sebagai pelayanan menyeluruh, bukan sektoral.
Nurrahimah menegaskan bahwa nantinya layanan Keswa akan terus diperluas, baik dari sisi pemantauan pasien, peningkatan literasi keluarga, hingga penguatan peran kader kesehatan di tingkat RT dan Posyandu agar deteksi dini dan respons cepat bisa semakin efektif.
“Kesehatan jiwa itu hak semua orang. Yang paling penting bagi kami, pasien tidak merasa sendiri, keluarga tidak bingung, dan lingkungan bisa ikut paham bahwa proses sembuh itu ada, asal dijalankan bersama dan rutin dipantau,” tutupnya.
Puskesmas Batu Ampar menunjukkan bahwa pemulihan kesehatan jiwa bukan hanya tugas medis, tetapi kerja kolaboratif yang mengangkat derajat keluarga dan komunitas, dengan semangat: pulih bersama, kuat bersama, tanpa stigma. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






