Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Sejak pandemi mereda, kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan perawatan gigi meningkat. Di Puskesmas Margo Mulyo, salah satu tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak layanan tersebut adalah drg. Rizki Bayu Utomo, dokter gigi muda lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2021. Meski baru beberapa tahun berkarier, pengalamannya menangani pasien di layanan primer membentuk komitmen kuat dalam pelayanan kesehatan gigi masyarakat.
Perjalanan Karier: Dari UGM hingga Mengabdi di Balikpapan
drg. Rizki mulai menetap di Balikpapan sejak 2021. Ia kemudian resmi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2022. Kariernya dimulai di Puskesmas Gunung Sari Ilir sebelum akhirnya mutasi ke Puskesmas Margo Mulyo pada tahun 2024.
Ketertarikan menjadi dokter gigi bukan tanpa alasan. Ia memilih profesi ini karena melihat peluang sekaligus ingin melengkapi peran sang ayah yang merupakan dokter umum dan bertugas di RS Kanujoso Djatiwibowo.
“Dulu mikirnya itu bapak saya dokter umum, tinggal saya yang ngisi dokter giginya,” tuturnya. Namun sang ayah wafat akibat Covid-19 pada 2021, tepat saat ia baru memulai karier.
Tantangan Profesi: Tindakan Tinggi dan Tuntutan Soft Skill
Menurutnya, profesi dokter gigi memiliki karakteristik berbeda dibanding dokter umum. Tidak hanya menangani diagnosis, dokter gigi juga melakukan banyak tindakan langsung pada pasien.
“Dokter gigi ini banyak tindakan dan perawatan. Selain itu kita juga harus melatih soft skill bicara, harus mengikuti perkembangan teknologi dan metode terbaru. Itu tantangannya,” jelasnya pada Selasa (18/11/2025).
Ia menekankan bahwa kemampuan komunikasi menjadi bagian penting karena banyak pasien datang dalam kondisi takut, nyeri, atau tidak memahami prosedur yang akan dilakukan.
Pasien Lebih Banyak, Kondisi Lebih Kompleks
Saat bertugas di Puskesmas Gunung Sari Ilir, kunjungan pasien gigi rata-rata hanya 6–8 orang per hari. Namun sejak bergabung di Puskesmas Margo Mulyo, angka kunjungan meningkat signifikan.
“Kebanyakan yang datang itu rata-rata sudah telat. Misalnya giginya berlubang tapi datang dalam kondisi sudah sakit atau bengkak,” katanya.
Di Margo Mulyo, jumlah pasien gigi rata-rata mencapai 10 orang per hari, dan bisa ditingkatkan menjadi 15 pasien jika kondisi alat memungkinkan.
“Karena keterbatasan alat, biasanya maksimal 15 pasien. Tapi itu sudah lebih banyak dari puskesmas saya sebelumnya,” tambahnya.
Menariknya, meski lokasi Puskesmas Margo Mulyo tidak berada di jalur utama atau jalan besar, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi mulai tumbuh, meski banyak yang datang dalam kondisi sudah parah.
Menghadirkan Layanan yang Lebih Optimal
Dengan karakter pasien yang beragam dan tingkat kasus yang kompleks, drg. Rizki berharap fasilitas perawatan gigi di layanan primer semakin diperkuat. Ia juga berkomitmen untuk terus mengikuti perkembangan ilmu kedokteran gigi agar pelayanan yang diberikan tetap relevan dan efektif.
“Perkembangan zaman itu cepat. Teknologi dan metode perawatan juga berubah. Kita harus terus belajar,” ujarnya.
Di tengah tantangan profesi dan dinamika pelayanan publik, drg. Rizki Bayu Utomo hadir sebagai tenaga kesehatan muda yang tidak hanya berkompeten secara teknis, tetapi juga memahami pentingnya komunikasi dan kedekatan psikologis dengan pasien. Melalui pengabdiannya di Puskesmas Margo Mulyo, ia berharap semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa kesehatan gigi bukan sekadar urusan estetika, tetapi bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






