Puskesmas Batu Ampar Beri Pendampingan Berobat Hingga Kunjungan ke Rumah untuk Pasien ODGJ

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Bagi warga yang telah terdiagnosa sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Puskesmas Batu Ampar memastikan layanan kesehatan mental tetap berjalan berkelanjutan, meski saat ini obat gangguan jiwa belum tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Kondisi ini membuat alur layanan tidak sepenuhnya selesai di puskesmas, melainkan membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut agar kebutuhan pengobatan pasien tetap terpenuhi secara optimal.

Penanggung jawab Program Kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Batu Ampar, Nurrahimah, A.Md, Kep, menjelaskan bahwa rujukan bukan berarti pasien dilepas begitu saja. Justru, Puskesmas mengambil peran lanjutan sebagai support system penghubung antara rumah pasien dan layanan medis yang lebih tinggi.

“Kami tetap pastikan warga yang rutin berobat dirujuk ke rumah sakit atau fasilitas lanjutan sesuai kebutuhan diagnosanya. Walau obat belum tersedia di puskesmas tingkat pertama, kami tidak berhenti pada rujukan saja. Kami memandu, memantau, dan mendampingi mereka selama proses berobat berlangsung,” ujar Nurrahimah pada Rabu (26/11/2025).

Tidak Sekadar Rujuk, tapi Menyapa Langsung ke Rumah
Dukungan kesehatan jiwa di Puskesmas Batu Ampar tidak berhenti di meja administrasi. Tim Keswa menjalankan kunjungan rumah berkala (home visit) sebagai bentuk nyata pendekatan jemput bola dan pendampingan personal. Kegiatan ini bertujuan memantau kondisi perkembangan pasien, memastikan keteraturan minum obat, mengobservasi perubahan perilaku, serta memperkuat pemahaman keluarga sebagai lingkungan pemulihan paling dekat dan paling berpengaruh.

“Kami datang ke rumah pasien, duduk bersama keluarganya, berbincang langsung tentang kondisi yang mereka hadapi. Di situ kami juga memastikan pasien minum obat teratur dan melihat respons pengobatannya. Yang paling penting, kami menguatkan keluarga agar mereka tahu bagaimana menjadi pendamping yang tepat,” tambahnya.

Nurrahimah menegaskan bahwa keluarga adalah perpanjangan tangan perawatan pasien, sehingga edukasi menjadi fokus utama selain pemantauan klinis.

“Kami selalu sampaikan bahwa perawatan ODGJ itu berbeda, sangat spesial, dan membutuhkan pendampingan yang tidak bisa disamakan dengan perawatan penyakit fisik semata. Dengan pengobatan rutin, emosi pasien bisa lebih terkontrol, pola tidurnya lebih baik, interaksi sosialnya lebih stabil, dan aktivitas hariannya pun bisa berjalan lebih terarah,” jelasnya. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *