Bidan yang Dibayar dengan Pisang dan Padi, Cerita Pengabdian Desi Sarungu di Pedalaman

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Dedikasi di dunia kesehatan tak selalu lahir dari rencana yang matang. Begitulah kisah perjalanan Desi Sarungu, A.Md.Keb, Bidan Puskesmas Margo Mulyo, yang awalnya bercita-cita menjadi perawat. Namun takdir membawanya menempuh jalan berbeda, yang justru mengantarkannya pada pengalaman hidup luar biasa.

Sejak kecil, Desi sudah diarahkan oleh ibunya untuk menekuni profesi perawat, mimpi yang tak sempat diwujudkan sang ibu karena harus menikah muda. “Pesan mama itu kuat sekali. Beliau ingin saya melanjutkan cita-citanya,” kenangnya, Selasa (25/10/2025)

Namun ketika tiba waktunya mengenyam pendidikan tinggi, kampus swasta tempat ia mendaftar hanya membuka formasi kebidanan. “Mau tidak mau saya masuk bidan,” ujarnya sambil tersenyum. Desi kemudian menempuh pendidikan di STIKES Graha Edukasi Makassar dan lulus pada 2009.

Perjalanan kariernya dimulai dengan penugasan Pegawai Tidak Tetap (PTT) selama satu tahun. Usai itu, ia dinyatakan lulus CPNS pada 2010 dan ditempatkan di Desa Long Bia, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, wilayah yang dihuni masyarakat asli suku Dayak.

Selama tujuh tahun Desi mengabdi di wilayah yang hanya memiliki akses transportasi lewat sungai dengan perahu ketinting. Merujuk pasien bukan hanya soal prosedur medis, tetapi juga soal perjuangan melawan alam. “Satu kali rujukan bisa menghabiskan biaya hampir sepuluh juta. Karena kondisinya mengancam nyawa dan jaraknya jauh sekali,” tuturnya.

Tantangan dan Pengabdian Desi Sarungu di Pedalaman

Keterbatasan fasilitas menjadi tantangan tersendiri. Listrik hanya menyala sekitar 30 menit sehari. Sinyal komunikasi hampir tak ada. Sementara itu, masyarakat masih memegang kuat kepercayaan adat dan sangat mengandalkan dukun beranak. “Awalnya sulit sekali. Edukasi kesehatan masih rendah, kepercayaan mereka pada dukun sangat kuat,” kata Desi.

Untuk bisa bekerja efektif, Desi mendekati ketua adat. Ia mengikuti pertemuan-pertemuan suku, menjelaskan tugasnya, dan meminta izin untuk membantu proses persalinan masyarakat. “Saya di kenalkan sebagai ‘anaknya’ ketua adat. Itu cara mereka melindungi saya,” ujarnya.

Pendekatan budaya itu membuat Desi di terima oleh masyarakat. Ia tak menyingkirkan dukun beranak, sebaliknya, ia merangkul dan melatih mereka. “Saya panggil dukun beranaknya, saya ajari perlahan. Supaya ilmunya meningkat dan bisa membantu persalinan dengan cara yang lebih aman.”

Menariknya, masyarakat di Long Bia tidak menggunakan uang. Sebagai tenaga kesehatan, Desi di bayar dengan hasil bumi. “Mereka datang membawa pisang, sayur, atau beras padi gunung. Itu cara mereka berterima kasih,” kenangnya.

Meski jauh dari kenyamanan kota, Desi bertahan selama tujuh tahun. Baginya, pengabdian di pedalaman memberikan pelajaran hidup yang tak tergantikan tentang ketulusan, kebersamaan, dan semangat melayani.

Setelah penugasan panjang di pedalaman, Desi kini menjalankan tugas sebagai bidan di Puskesmas Margo Mulyo, Balikpapan. Pengalaman kerasnya di Kalimantan Utara menjadi modal berharga dalam memberikan pelayanan kesehatan yang humanis dan penuh empati.

“Di manapun saya di tempatkan, saya ingin tetap bermanfaat. Itulah pesan orang tua saya,” tutupnya. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *