lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Di usianya yang baru 29 tahun, dr. Radin Aslaam Asqhalani menjadi dokter umum termuda di Puskesmas Margo Mulyo. Meski baru bertugas sekitar tiga hingga empat bulan, kehadirannya menambah energi baru bagi layanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam pelayanan klinis dan kunjungan lapangan.
Namun perjalanan Radin menapaki dunia kedokteran ternyata bukan bermula dari ambisi pribadi. Justru ia mengaku sempat ingin memilih jurusan teknik, seperti teknik fisika atau mesin.
“Sebenarnya saya kecemplung di dunia kedokteran. Awalnya mau ngambilnya teknik karena dulu suka hitung-hitungan. Tapi orang tua maunya kedokteran, ya saya ambil itu,” ujarnya pada Rabu (19/11/2025).
Meski awalnya ragu, perjalanan pendidikannya justru membuka mata bahwa profesi ini memberikan makna tersendiri. “Setelah dijalani, lama-kelamaan ada reward-nya. Habis obatin pasien terus mereka berterima kasih itu rasanya senang banget. Itu yang jadi semangat sampai sekarang,” tuturnya.
Pendidikan dan Jejak Karier
dr. Radin menempuh pendidikan di Balikpapan sejak kecil. Mulai dari SD Patra Dharma, SMP Negeri 3 Balikpapan dan SMA Negeri 1 Balikpapan.
Ia kemudian menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Mulawarman dan lulus pada 2023 sebelum menjalani program internship.
Sebelum bergabung ke Puskesmas Margo Mulyo, Radin pernah bekerja sebagai dokter MCU di klinik yang menangani pemeriksaan kesehatan untuk perusahaan pertambangan. Pengalaman inilah yang memperkaya kemampuannya dalam pemeriksaan medis dan komunikasi pasien.
Profesionalisme di Tengah Dinamika Pasien
Sejak bertugas di Margo Mulyo, Radin merasa atmosfer pelayanan cukup hangat meski tetap penuh tantangan.
“Disini pasiennya ramah-ramah, tapi karakternya beda-beda. Ada yang marah-marah juga, tapi ya namanya kerja kita harus profesional,” katanya.
Tantangan terbesar menurutnya adalah penanganan pasien lansia, terutama terkait keluhan kronis seperti nyeri sendi.
“Kita kadang bingung kapan harus dirujuk, kapan cukup diobatin. Takutnya kita kasih rujukan tapi rumah sakit nggak terima. Ada juga pasien yang tiba-tiba minta dirujuk tanpa pemeriksaan, itu tantangannya untuk jelasin,” jelasnya.
Momen Paling Mengharukan
Bagi Radin, aspek emosional dalam profesi dokter menjadi pelajaran berharga, terutama saat menangani pasien lanjut usia.
“Kalau melayani pasien yang tua itu keingat orang tua. Apalagi kalau mereka datang sendiri, nggak ada yang temani. Sedih dan haru banget,” ucapnya.
Ia juga mengaku terpukul ketika mendapati pasien dalam kondisi berat tetapi tidak memiliki BPJS Kesehatan.
“Pasien yang terpuruk dan nggak punya BPJS, itu sedih banget sebenarnya,” tambahnya.
Harapan untuk Puskesmas dan Masa Depan Karier
dr. Radin berharap Puskesmas Margo Mulyo terus mempertahankan pendekatan pelayanan yang dekat dengan masyarakat.
“Semoga puskesmas terus mengayomi masyarakat. Kunjungan rumah juga harus dipertahankan karena itu menunjukkan kepedulian,” ujarnya.
Untuk masa depan, ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis.
“Harapannya bisa naik lagi ambil spesialis. Rencananya kegawatdaruratan, atau mungkin saraf,” katanya.
Sebagai dokter muda yang awalnya masuk dunia medis karena pilihan orang tua, perjalanan dr. Radin Aslaam Asqhalani justru berkembang menjadi profesi penuh empati dan pengabdian. Dengan tekad melanjutkan pendidikan dan semangat melayani masyarakat, sosoknya menjadi representasi generasi tenaga kesehatan baru yang tidak hanya kompeten, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial pasien. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






