Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Hampir tiga bulan tanpa hujan membuat petani cabai di Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, harus berjuang mempertahankan tanaman mereka di tengah keterbatasan air. Sumber air yang mulai mengering, bunga cabai yang berguguran, hingga hasil panen yang merosot menjadi gambaran beratnya dampak kemarau bagi petani lokal.
Bagi Agus Basuki, petani hortikultura di Karang Joang, kemarau kali ini bukan sekadar persoalan cuaca panas. Ketersediaan air yang semakin terbatas membuat petani kesulitan merawat tanaman, bahkan tidak sedikit yang mengalami gagal panen.
“Produksi cabai kita jauh menurun dari kondisi normal. Bisa mencapai kurang lebih 70 persen. Jadi, produksi yang tadinya ada sekarang hanya tersisa sekitar 30 persen,” kata Agus saat ditemui di Balikpapan, Kamis (22/10/2026).
Menurut Agus, dampak kemarau mulai terasa ketika sumber air yang selama ini diandalkan untuk menyiram tanaman semakin menyusut. Sumur, aliran sungai, parit kecil, hingga embung buatan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air untuk seluruh lahan pertanian.
Pada dua bulan pertama kemarau, petani masih dapat mengandalkan cadangan air yang tersedia. Namun, memasuki bulan ketiga, kondisi semakin sulit. Hanya lahan yang memiliki sumur bor yang relatif mampu bertahan menghadapi kekeringan.
“Kalau dua bulan pertama, kami masih punya cadangan air. Sekarang sudah masuk bulan ketiga, cadangan air kritis. Kecuali lahan yang memiliki sumur bor, itu masih bisa bertahan,” ujarnya.
Keterbatasan air memaksa petani mengubah strategi budidaya. Jika sebelumnya mereka berupaya menjaga produktivitas dan menyiapkan penanaman baru, kini perhatian lebih banyak diarahkan untuk menyelamatkan tanaman yang masih hidup.
“Yang kami lakukan sekarang hanya menyelamatkan tanaman yang ada. Untuk menanam baru, kami tidak bisa karena airnya tidak tersedia,” kata Agus.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap hasil panen. Dalam keadaan normal, satu pohon cabai dapat menghasilkan sekitar 0,5 hingga 0,8 kilogram buah. Kini, hasilnya hanya berkisar 0,2 hingga 0,3 kilogram per tanaman.
Bahkan, pada sejumlah lahan yang terdampak berat, hasil panen hanya tersisa sedikit. Agus menyebut ada petani yang hanya mampu mendapatkan sekitar 10 kilogram cabai.
Selain jumlah panen yang menurun, kualitas buah juga ikut terpengaruh. Kekurangan air menyebabkan bunga cabai berguguran, sedangkan buah yang bertahan cenderung lebih ringan.
Di sisi lain, petani justru harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk penyiraman dan tenaga kerja. Upaya mempertahankan tanaman membutuhkan tambahan tenaga dan biaya, sementara hasil yang dapat dijual semakin terbatas.
Kondisi ini membuat petani menghadapi dilema. Tanaman yang masih bertahan harus terus dirawat agar tidak mati, tetapi keterbatasan air dan meningkatnya biaya produksi membuat upaya tersebut semakin berat.
Dampak kemarau terlihat jelas jika dibandingkan dengan kapasitas produksi sebelum kekeringan berlangsung. Pada kondisi normal hingga semester pertama 2026, lahan cabai di Balikpapan Utara mencapai sekitar 20 hektare.
Dengan populasi rata-rata 12.000 tanaman per hektare dan produktivitas sekitar 0,5 kilogram per tanaman, kawasan tersebut dapat menghasilkan sekitar enam ton cabai setiap pekan. Namun, angka itu kini sulit dicapai karena sebagian lahan mengalami penurunan produksi, bahkan gagal panen.
Sentral cabai di Balikpapan tersebar di sejumlah wilayah, terutama Karang Joang di Balikpapan Utara dan Lamaru di kawasan timur kota. Petani di wilayah tersebut menghadapi tantangan serupa ketika sumber air untuk mengairi tanaman mulai mengering.
Agus khawatir, jika hujan belum turun dalam satu bulan ke depan, tanaman yang masih bertahan akan kembali mengalami penurunan produksi. Petani juga belum dapat memulai penanaman baru karena belum memiliki kepastian ketersediaan air. (yud)












