Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Sebuah keterampilan bisa menjadi awal dari perubahan hidup. Bagi perempuan penyandang disabilitas dan ibu tunggal, kemampuan menjahit bukan hanya soal menghasilkan pakaian atau produk kerajinan, tetapi juga membuka peluang untuk memperoleh penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi keluarga.
Semangat itulah yang diusung melalui program Women Support Women yang diinisiasi Srikandi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT). Program ini memberikan pelatihan menjahit, bantuan sarana produksi, hingga pendampingan awal bagi perempuan yang ingin mengembangkan keterampilan menjadi peluang usaha.
Mengangkat tema “Perempuan Berdaya, Ekonomi Tumbuh Bersama”, kegiatan tersebut berlangsung pada 8–15 Oktober 2026 di Aula Kelurahan Telaga Sari, Balikpapan. Pelaksanaannya melibatkan Rumah Zakat Balikpapan dan DPC Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Balikpapan.
Program ini tidak sekadar menghadirkan pelatihan singkat. Peserta juga mendapatkan sarana produksi agar keterampilan yang dipelajari bisa langsung dipraktikkan dan dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Rangkaian kegiatan diawali dengan peresmian program dan serah terima bantuan peralatan menjahit. Selanjutnya, peserta mengikuti enam sesi pelatihan dasar yang dilengkapi praktik langsung.
Mereka juga mendapatkan pendampingan awal untuk memanfaatkan peralatan yang tersedia serta mengembangkan produk sederhana yang berpotensi dipasarkan. Peserta diperkenalkan dengan dasar pemasaran dan pencatatan transaksi agar dapat memantau perkembangan usaha yang nantinya dijalankan.
Ketua Srikandi PLN UIP KLT, Yulina, mengatakan program Women Support Women merupakan bentuk komitmen untuk membuka kesempatan bagi perempuan dalam mengembangkan potensi dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan kesempatan bagi perempuan penyandang disabilitas dan ibu tunggal untuk mengembangkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha. Kami berharap pelatihan, sarana produksi, dan pendampingan yang diberikan menjadi langkah awal bagi peserta untuk menghasilkan produk bernilai jual, membangun kepercayaan diri, serta meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga,” ujar Yulina.
Bagi penyelenggara, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. Keterampilan yang diperoleh diharapkan benar-benar dapat digunakan untuk menghasilkan produk, membuka peluang usaha, dan membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
Karena itu, akses terhadap pendampingan dan pemasaran menjadi bagian penting agar upaya pemberdayaan tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Balikpapan, Adamin Siregar, mengapresiasi inisiatif tersebut karena membuka kesempatan bagi kelompok perempuan yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan keterampilan dan mengembangkan potensi ekonomi.
“Kami menyambut baik program Women Support Women karena memberikan keterampilan yang dapat menjadi modal bagi peserta untuk mengembangkan kemandirian ekonomi. Dukungan seperti ini penting untuk membuka kesempatan kerja dan usaha yang lebih inklusif bagi perempuan, termasuk penyandang disabilitas dan ibu tunggal,” ujar Adamin.
Ia berharap kerja sama antara PLN, pemerintah daerah, komunitas, dan mitra pelaksana dapat terus diperkuat agar manfaat program menjangkau tahap yang lebih jauh, mulai dari pengembangan produk hingga akses pasar.
“Kami berharap program ini dapat berkelanjutan, tidak hanya pada tahap pelatihan, tetapi juga dilanjutkan dengan pendampingan, pengembangan produk, serta membuka akses pemasaran. Dengan kolaborasi yang konsisten, keterampilan yang sudah diperoleh peserta dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” tambahnya.
Dukungan juga datang dari Ketua DPC HWDI Balikpapan, Lily Handayani, S.S. Menurutnya, program tersebut memberikan kesempatan bagi perempuan penyandang disabilitas untuk belajar, mengasah kemampuan, dan memperluas peluang ekonomi.
“Kami mengapresiasi dukungan PLN dan seluruh pihak yang telah memberikan kesempatan kepada perempuan penyandang disabilitas untuk belajar dan mengembangkan keterampilan menjahit. Kami berharap keterampilan dan sarana produksi yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual, sehingga para peserta semakin percaya diri, mandiri, dan memiliki kesempatan untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga,” ungkap Lily.
Pelaksanaan program turut melibatkan perangkat daerah terkait dan Lurah Telaga Sari. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas akses pemberdayaan ekonomi yang inklusif sekaligus membantu peserta mengembangkan potensi usaha setelah pelatihan.
Melalui program Women Support Women, Srikandi PLN UIP KLT berupaya mendorong pemberdayaan yang tidak berhenti pada pemberian keterampilan, tetapi berlanjut pada pemanfaatan kemampuan dan sarana produksi untuk menghasilkan produk bernilai jual.
Inisiatif ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender dan Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pada akhirnya, pelatihan menjahit ini diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi perempuan penyandang disabilitas dan ibu tunggal untuk memperluas kesempatan berusaha. Dengan keterampilan, peralatan, pendampingan, serta dukungan pasar yang berkelanjutan, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha dan memperkuat ekonomi keluarga.
Sebab, pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan kesempatan untuk belajar, tetapi juga memastikan kesempatan itu dapat berkembang menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri. (*)






