Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Demam Berdarah Dengue (DBD) memang menjadi perhatian khusus bagi Puskesmas. Khususnya di Puskesmas Batu Ampar, kasus DBD terus ditekan melalui berbagai inovasi. Salah satu yang dilakukan yakni menggunakan ambulans untuk sosialisasi ke masyarakat.
Ambulans cukup efektif dalam memberitahukan kepada masyarakat terkait bahaya DBD. Yakni selain dapat bermobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, Ambulans memiliki pengeras suara untuk menyampaikan pesan pencegahan.
“Kemudian kita juga pakai ambulans untuk sosialisasi. Ambulans ini kan punya pengeras suara sendiri, jadi kita keliling memberitahukan ke warga terkait pencegahan DBD ini,” kata Dea Andreani, Kesehatan Lingkungan (Kesling) Puskesmas Batu Ampar ditemui di kantornya pada Selasa (11/11/2025).
Kasus DBD di wilayah Batu Ampar dua tahun terakhir memang cukup mengkhawatirkan. Tahun ini saja, tercatat 92 kasus DBD. Meski sempat turun pada tiga bulan terakhir, namun kasus DBD tetap menjadi kewaspadaan Puskesmas Batu Ampar.
Bukan tanpa sebab, Puskesmas Batu Ampar terus menelusuri penyebab tingginya kasus DBDB. Salah satunya yang berhasil dianalisis adalah penampungan air hujan sebagai kebutuhan sehari-hari.
“Kita disini (Batu Ampar) kebanyakan warga kekurangan air, jadi menampung air hujan untuk kebutuhan air sehari-hari. Nah disitulah bisa jadi sarang nyamuk. Karena air hujan ini kan biar kita tabur abate, tapi air hujan ini kan selalu kita pakai, jadi endapannya yang dibawah naik lagi keatas, jadi harus berulang menaburi abatenya,” jelas Dea.

Selain itu, Dea mengatakan pihaknya saat ini tengah berproses membuat kelambu air sebagai pencegahan sarang nyamuk. Sembari berproses, pihaknya masih mengandalkan kelambu air yang dipasok oleh Dinas Kesehatan.
“Untuk menekannya ini kami masih mau berproses untuk pembuatan kelambu air. Cuma untuk kelambu air ini agak susah karena kita harus mencari yang bisa jahit. Saat ini untuk pemasokan kelambu air kan biasanya dikasih sama Dinas Kesehatan,” pungkasnya. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






