Lintasbalikpapan.com, BERAU — PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek (UPP) KLT 2 memperkuat kesiapsiagaan insan PLN dalam menghadapi kondisi darurat melalui kegiatan Edukasi dan Simulasi Tanggap Darurat Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Berau, Senin (10/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor PLN UPP KLT 2, Tanjung Redeb, tersebut diikuti pegawai dan tenaga alih daya sebagai bagian dari upaya PLN meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus mendukung pemenuhan maturity level Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di lingkungan kerja.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai keterampilan dasar pertolongan pertama yang dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi darurat medis, baik di tempat kerja maupun dalam aktivitas sehari-hari.
Empat materi utama diberikan kepada peserta, yakni dasar pertolongan pertama, metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation), Resusitasi Jantung Paru (RJP), serta penanganan gejala serangan jantung yang muncul secara mendadak saat berolahraga.
Pada materi dasar pertolongan pertama, peserta mendapatkan pemahaman mengenai prinsip dan langkah awal dalam menangani korban kecelakaan, termasuk teknik pembalutan luka. Sementara metode RICE diperkenalkan sebagai salah satu penanganan awal terhadap cedera ringan seperti keseleo atau terkilir yang dapat terjadi saat melakukan aktivitas fisik.
Tidak hanya mendapatkan materi secara teori, peserta juga mengikuti simulasi dan praktik secara langsung. Salah satunya melalui praktik RJP menggunakan manekin simulasi sehingga peserta dapat memahami tahapan pertolongan terhadap korban yang mengalami henti jantung.
Manager PLN UPP KLT 2, Jefry Sambara Palelleng, mengatakan kemampuan memberikan pertolongan pertama merupakan bagian penting dalam membangun budaya keselamatan di lingkungan kerja.
“Kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat merupakan bagian penting dari penerapan budaya K3. Melalui edukasi dan simulasi P3K ini, kami ingin memastikan setiap insan PLN memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk memberikan pertolongan pertama secara tepat ketika menghadapi kondisi darurat, baik di lingkungan kerja maupun dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Jefry.
Menurutnya, edukasi tersebut juga relevan dengan penguatan Program Wellbeing di lingkungan PLN yang mendorong insan perusahaan menjaga kebugaran melalui aktivitas fisik dan olahraga.
“Hal ini juga semakin relevan dengan penguatan Program Wellbeing di lingkungan PLN, di mana aktivitas fisik dan olahraga menjadi bagian dari upaya menjaga kebugaran insan PLN. Selain mendorong gaya hidup sehat, kami juga perlu memastikan kesiapan dalam mengenali dan merespons kondisi darurat yang mungkin terjadi saat beraktivitas,” lanjutnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan budaya K3 di lingkungan PLN. Keterampilan pertolongan pertama dinilai penting bagi insan PLN yang menjalankan aktivitas tidak hanya di lingkungan perkantoran, tetapi juga di lapangan dan lokasi proyek dengan karakteristik risiko yang beragam.
Melalui kolaborasi bersama PMI Kabupaten Berau, PLN UPP KLT 2 terus mendorong peningkatan kompetensi sekaligus kepedulian insan PLN terhadap aspek keselamatan. Edukasi dan simulasi secara langsung diharapkan dapat membuat peserta lebih siap menghadapi kondisi darurat serta mampu memberikan pertolongan awal sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Upaya tersebut diharapkan turut menciptakan lingkungan kerja yang semakin aman, sehat, dan tanggap terhadap berbagai potensi kondisi darurat.
Semangat “Setiap Orang Bisa Menolong, Setiap Detik Berarti” menjadi pengingat bahwa kemampuan memberikan pertolongan pertama merupakan keterampilan penting yang dapat memberikan dampak besar dalam menyelamatkan seseorang ketika menghadapi situasi darurat. (*)






