Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Sofyan Jufri, menekankan pentingnya penguatan edukasi pola asuh sejak dini sebagai langkah utama dalam mencegah meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Balikpapan. Tahun 2025 angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Balikpapan tercatat mencapai 222 kasus, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 220 kasus.
Menurut Sofyan, upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan melalui penanganan kasus setelah terjadi, tetapi harus dimulai dari hulu, yakni dengan membangun pemahaman masyarakat terkait pola asuh yang sehat dan lingkungan yang aman bagi anak.
“Pencegahan harus dimulai dari keluarga. Edukasi tentang pola asuh yang benar sangat penting agar kekerasan tidak terjadi sejak awal,” ujarnya kepada wartawan, Senin (6/4/2026).
Ia menilai, masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami dampak dari pola asuh yang keliru, baik secara fisik maupun psikologis terhadap anak. Kondisi ini, kata dia, menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya kekerasan dalam lingkup rumah tangga.
“Sering kali kekerasan terjadi bukan karena niat, tapi karena kurangnya pengetahuan. Ini yang harus kita perbaiki melalui edukasi yang berkelanjutan,” katanya.
Selain di lingkungan keluarga, Sofyan juga mendorong agar edukasi diperkuat di sekolah melalui program-program yang mendukung perlindungan anak. Ia menilai, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter serta memberikan pemahaman kepada anak terkait hak-haknya.
“Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan juga tempat edukasi bagi anak untuk memahami hak serta cara melindungi diri,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia meminta pemerintah kota melalui dinas terkait untuk lebih masif dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Edukasi, menurutnya, harus menjangkau seluruh lapisan, termasuk di tingkat RT dan kelurahan.
“Jangan hanya seremonial. Edukasi harus menyentuh langsung masyarakat, bahkan sampai ke tingkat bawah,” ujarnya.
Sofyan juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam upaya pencegahan, mulai dari tokoh masyarakat, tenaga pendidik, hingga organisasi sosial. Kolaborasi ini dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi perempuan dan anak.
Ia berharap, dengan penguatan edukasi dan kesadaran masyarakat, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Balikpapan dapat ditekan secara bertahap.
“Kalau kesadaran masyarakat meningkat, saya yakin kasus kekerasan bisa kita cegah. Ini tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (yud/ADV/DPRD Balikpapan)












