Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Jauh sebelum menekuni dunia kesehatan, Marhamah tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi ahli gizi yang berperan di garda terdepan pencegahan malnutrisi pada anak. Namun, pilihan yang dulu diambil bukan karena obsesi seragam pegawai negeri, kini justru menjadi ruang pengabdian yang ia jalani dengan hati.
“Sebenarnya saya mau daftar Arsitek, bahkan diterima untuk pendidikan arsitek. Tapi saya tidak mau jadi guru, jadinya pilih ahli gizi,” kenangnya saat ditemui di kantornya pada Rabu (26/11/2025).
Keputusan itu pun bukan semata coba-coba. Ia melihat ada celah di tengah keluarganya yang banyak berprofesi di kesehatan, namun belum ada yang mengambil kejuruan gizi. “Di keluarga, tenaga kesehatan banyak. Tapi yang jurusan gizi belum ada. Dari situ saya merasa bisa mengambil perannya,” ujarnya.
Dari Dunia Swasta hingga Menemukan Jalan PNS
Setelah lulus dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Makassar pada 2008 di jurusan Ahli Gizi, Marhamah sebenarnya lebih tertarik meniti karier di sektor privat. Ia sempat bekerja sebagai tenaga medis di perusahaan, namun ritme kerja yang mengharuskannya selalu berpindah-pindah wilayah membuatnya memutuskan berhenti.
“Saya tidak berencana jadi PNS. Yang penting kerja saja, lebih suka yang swasta,” katanya.
Namun nasib berkata lain. Setelah dua tahun di perusahaan, ia bergabung dalam proyek gizi berbasis komunitas, program perbaikan gizi dari pemerintah yang disebar hingga level kelurahan. Ia pun ditempatkan di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan untuk menjalankan program edukasi gizi masyarakat.
Tak lama berselang, peluang lebih besar membuka jalan ke Kalimantan Timur. Informasi dari sang kakak tentang penerimaan PNS bidang ahli gizi di Balikpapan dengan kuota lebih banyak mendorongnya merantau.
“Ada penerimaan PNS di Makassar, tapi kuota gizi cuma satu orang. Kakak saya infokan Balikpapan ada kuota sekitar lima orang. Dari situ saya memberanikan diri tes di Balikpapan tahun 2010,” tuturnya.
Keputusan itu membuahkan hasil. Ia lulus seleksi ASN pada 2011 dan langsung ditempatkan di Puskesmas Batu Ampar — tempat ia mengabdi hingga kini.
Suka Duka Ahli Gizi: Intervensi Langsung ke Masyarakat
Bekerja sebagai ahli gizi di puskesmas sendiri memiliki tantangan berbeda dibanding profesi klinis lainnya. Menurutnya, ahli gizi bukan hanya memberi resep diet, tetapi harus turun langsung ke masyarakat, memberikan edukasi berulang, dan memastikan perubahan pola asuh maupun pengaturan makan.
“Dokter umum pasien datang, berobat, selesai. Kalau ahli gizi, bagian tersulit itu intervensinya. Kita turun langsung ke masyarakat, mengajak orang tua balita untuk edukasi gizi,” jelasnya.
Proses itu menuntut kesabaran, komunikasi personal, dan pendekatan yang tidak instan. Menyaksikan respons positif masyarakat, terutama ketika orang tua semakin sadar pentingnya pengaturan makan anak, menjadi bahan bakar semangatnya.
“Perasaan saya sih senang saja, semua mengalir aja disini,” katanya.
Namun, momen sulit juga tidak terhindarkan. Mengubah kebiasaan makan keluarga dan menanamkan kesadaran gizi sejak fase golden age anak masih menjadi pekerjaan besar yang harus dilakukan secara konsisten.
Harapan: Gizi Anak Membaik, Layanan Tetap Mengayomi
Melihat perjalanan panjangnya, Marhamah tetap menaruh optimisme terhadap masa depan pelayanan gizi di puskesmas.
“Mudah–mudahan pekerjaan lancar, dan semua masalah terkait gizi bisa teratasi,” harapnya.
Ia juga ingin masyarakat terus merasa care dan diayomi oleh layanan primer seperti puskesmas, agar intervensi gizi tidak hanya berhenti pada data, tetapi berujung pada perubahan nyata di meja makan keluarga.
Dari pilihan yang dulu terasa jauh dari rencana awal, kini Marhamah membuktikan bahwa profesi ahli gizi adalah jembatan kemanusiaan yang tidak kalah penting. Melalui layanan edukasi, intervensi keluarga, dan kehadirannya di tengah masyarakat, ia terus berupaya memastikan bahwa gizi baik bukan hanya soal angka di laporan, tetapi masa depan generasi yang lebih sehat. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)






