Puskesmas Batu Ampar Petakan Kompetensi 40 Kader Posyandu Lewat Assessment Keterampilan

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Di tengah derasnya arus tantangan layanan kesehatan primer, Puskesmas Batu Ampar memilih pendekatan hulu, yakni memperkuat kualitas kader Posyandu sebagai perpanjangan tangan pelayanan di masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan assessment tingkat keterampilan kader Posyandu yang digelar terstruktur, melibatkan empat unsur nakes sekaligus, dan diikuti antusias puluhan kader dari wilayah kerja Batu Ampar.

Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Batu Ampar, Dwi Noviani, S.K.M, menjelaskan bahwa assessment ini bukan sekadar uji kemampuan formal, melainkan proses pemetaan kompetensi untuk memahami kebutuhan pelatihan kader secara lebih presisi.

“Assessment kader ini kami lakukan untuk mengukur sejauh mana keterampilan dasar kader dalam memberikan pelayanan kesehatan di Posyandu. Dari sini, kami bisa mengidentifikasi tingkat kemampuan masing-masing kader, lalu menyusun rencana pelatihan yang lebih efektif dan efisien,” ujar Dwi pada Senin (24/11/2025).

Kegiatan dilakukan dengan dua metode penilaian, yakni wawancara dan simulasi 5 langkah pelayanan Posyandu. Pendekatan ini dirancang tidak hanya menilai hafalan materi, tetapi juga kemampuan aplikasi layanan secara aman, tepat, dan terampil, sesuai skenario riil yang dihadapi kader saat menemui ibu hamil, bayi, balita, hingga lansia di lapangan.

Penilaian dilakukan menggunakan daftar tilik keterampilan dasar kader, mencakup lima rumpun kompetensi: pengelolaan Posyandu, layanan bayi dan balita, layanan ibu hamil dan menyusui, layanan usia sekolah dan remaja, serta layanan usia dewasa dan lansia. Dari kelima kelompok keterampilan tersebut, kader dikategorikan ke dalam tiga tingkatan keterampilan: Purwa, Madya, dan Utama.

Dwi merinci perbedaan level keterampilan itu sebagai tolok ukur kesiapan. Kader Purwa adalah kader yang menguasai dua keterampilan inti (pengelolaan Posyandu dan layanan bayi-balita) plus satu keterampilan dasar tambahan. Kader Madya sudah menguasai empat kelompok keterampilan dasar, sedangkan Kader Utama adalah kader paripurna yang menguasai seluruh 5 kelompok keterampilan dasar.

Dari 46 kader yang diundang, 40 kader hadir dan mengikuti assessment hingga akhir. Angka ini menunjukkan komitmen sukarela yang kuat dari kader, meski kegiatan membutuhkan waktu penilaian yang cukup panjang. Sebagai penilai, Puskesmas menurunkan Tim terintegrasi dari Promkes, Nutrisionis (Ahli Gizi), Bidan, serta Dokter umum untuk menjaga akurasi dan objektivitas penilaian.

Meski berjalan lancar, kegiatan ini tetap meninggalkan catatan tantangan. Beberapa kader tidak hadir, sementara sebagian lainnya belum lulus penilaian, salah satunya disebabkan materi pelatihan sebelumnya yang belum diterima optimal.

“Ini warning yang baik untuk kami. Artinya, cara menyampaikan materi ke kader harus terus kami perbaiki, agar mudah dipahami, mudah dipraktikkan, dan hasilnya optimal saat diuji maupun saat pelayanan ke warga,” kata Dwi.

Namun bagi Puskesmas, kader yang belum lulus bukanlah kegagalan, melainkan data awal langkah perbaikan. Assessment menjadi dasar penting untuk merancang pelatihan lanjutan yang lebih adaptif, segmentatif, dan ramah metode belajar kader, termasuk dengan format simulasi yang lebih sering, mentoring, dan pendampingan terjadwal.

Pemetaan kompetensi ini juga diharapkan mampu menaikkan standar layanan di 5 langkah Posyandu: mulai dari pendaftaran, penimbangan, pencatatan, penyuluhan, hingga layanan kesehatan dasar. Dengan atlas kompetensi yang kini dimiliki Puskesmas Batu Ampar, semangat pelayanan ke 45 ribu lebih warga Batu Ampar tidak lagi hanya bertumpu di 20–30 nakes Puskesmas saja, tetapi juga diperkuat oleh jejaring 40 kader teredukasi yang siap bertugas.

“Harapan kami, assessment ini menjadi titik tumbuh kader Posyandu yang semakin percaya diri dan berdaya, sehingga pelayanan promotif dan preventif di masyarakat semakin luas jangkauannya, inklusif, dan berkualitas,” tutup Dwi optimistis.

Kolaborasi ilmu dan praktik ini menyisakan pesan kuat bagi publik: pelayanan kesehatan terbaik tidak hanya dimulai dari klinik, tetapi dari tangan-tangan kader yang terampil dan berhati tulus di tengah masyarakat. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *