Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Menjalani pengobatan tuberkulosis (TBC) selama enam bulan bukan hal mudah bagi banyak pasien. Ketidakpatuhan minum obat menjadi salah satu penyebab kegagalan terapi dan risiko penularan yang semakin luas. Untuk mengatasi hal itu, Puskesmas Gunung Samarinda memperketat pemantauan pengobatan pasien TBC melalui sistem terstruktur dan pendampingan berkelanjutan.
Pengelola Program TBC Puskesmas Gunung Samarinda, Dimas Ardianto, A.Md.Kep, mengatakan bahwa pengawasan dilakukan dengan pendekatan berlapis, mulai dari sistem pencatatan digital hingga keterlibatan kader di lapangan.
“Pemantauan dilakukan lewat E-Rekam Medis, kunjungan rumah, dan pendampingan oleh kader TBC. Kader dan petugas melakukan Pemantauan Minum Obat (PMO). Kami juga memberikan edukasi menyeluruh serta akses konsultasi yang mudah selama pasien menjalani pengobatan,” jelasnya, Rabu (19/11/2025)
Keberadaan kader disebut sangat penting, terutama untuk memantau pasien yang berisiko putus obat. Kader bertugas mengingatkan jadwal minum obat, memeriksa keluhan, hingga memastikan pasien datang kontrol sesuai jadwal.
Saat ini terdapat dua kader aktif TBC di wilayah kerja Puskesmas Gunung Samarinda. Namun, Dimas menyebut masih ada beberapa kader lain yang sudah mendapatkan pelatihan, tetapi belum terlibat secara optimal.
“Kader aktif sangat membantu. Namun, beberapa kader lain yang sudah dilatih masih pasif sehingga perlu kembali diaktifkan. Semakin banyak kader yang turun, semakin kuat pengawasan pasien,” ujarnya.
Efek samping obat sering kali membuat pasien berhenti minum obat tanpa berkonsultasi. Untuk mencegah hal itu, puskesmas menyiapkan kanal komunikasi langsung dengan petugas TBC.
“Jika muncul efek samping, pasien diminta segera menghubungi petugas yang nomornya tercantum dalam kartu pengobatan. Dokter penanggung jawab yang menentukan apakah terapi dilanjutkan atau perlu dihentikan sementara,” kata Dimas.
Edukasi mengenai efek samping juga diberikan sejak awal pengobatan agar pasien tidak panik dan tetap berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.
Dalam upaya memperkuat layanan, Puskesmas Gunung Samarinda kini memiliki tim TBC yang terdiri dari empat perawat, tiga dokter, satu petugas promosi kesehatan, dua petugas laboratorium, dan dua kader aktif.
“Untuk logistik TCM kami pastikan aman. Catridge TCM siap dan stok cukup untuk kebutuhan pemeriksaan harian maupun rujukan,” ungkapnya.
Tersedianya Tes Cepat Molekuler (TCM) memungkinkan diagnosis TBC dilakukan lebih cepat dan akurat, sehingga terapi bisa segera dimulai.
Selain pengobatan, puskesmas juga memperluas jangkauan edukasi sebagai langkah pencegahan. Sosialisasi dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga di titik-titik aktivitas masyarakat.
“Kami menggiatkan edukasi melalui media sosial, poster, leaflet, penyuluhan ke sekolah, perusahaan, posyandu, hingga edukasi langsung di ruang tunggu layanan. Semakin banyak masyarakat yang paham tanda dan gejala TBC, semakin cepat kasus ditemukan,” tambah Dimas.
Ia berharap keterlibatan masyarakat semakin besar mengingat Eliminasi TBC 2030 membutuhkan sinergi semua pihak, termasuk keluarga, kader, hingga pemerintah. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)






