Kasus TBC di Wilayah Puskesmas Gunung Samarinda Menurun, Skrining Sekolah Diperkuat

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Upaya pengendalian tuberkulosis (TBC) oleh Puskesmas Gunung Samarinda menunjukkan tren positif. Data terbaru mencatat penurunan kasus pada 2025 menjadi 35 kasus, setelah pada 2024 mencapai 39 kasus. Meski demikian, kelompok usia produktif masih mendominasi temuan kasus di wilayah tersebut.

Pengelola Program TBC Puskesmas Gunung Samarinda, Perawat Dimas Ardianto, A.Md.Kep, mengatakan penurunan ini tidak lepas dari strategi penemuan kasus yang semakin agresif dan terstruktur.

Ia menjelaskan, saat ini puskesmas menerapkan dua strategi penemuan kasus, yakni penemuan aktif dan pasif.

“Penemuan aktif dilakukan lewat skrining di sekolah, perusahaan, posyandu, kegiatan PTM, CKG, hingga investigasi kontak serumah. Penemuan pasif dilakukan saat pasien datang berobat di poli umum, KIA, gigi, maupun gizi,” ungkap Dimas, Rabu (19/11/2025)

Lingkungan sekolah dinilai sebagai salah satu titik rawan penularan karena aktivitas siswa yang berlangsung lama dalam ruang kelas. Oleh karena itu, puskesmas memperkuat skrining melalui berbagai kegiatan yang sudah rutin berjalan.

“Skrining TBC kami integrasikan ke dalam kegiatan BIAS, Germas, dan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Tujuannya agar deteksi dini tidak hanya menyasar masyarakat umum, tapi juga pelajar yang berisiko terpapar di lingkungan sekolah,” ujar Dimas.

Program skrining ini, lanjutnya, terbukti efektif menemukan gejala awal yang sebelumnya tidak disadari pasien maupun keluarga.

Meski upaya penemuan kasus semakin luas, tantangan besar masih muncul dalam proses pengobatan. Tingkat keberhasilan pengobatan atau Treatment Success Rate (TSR) di wilayah Gunung Samarinda baru mencapai 78 persen, masih di bawah target nasional.

Menurut Dimas, rendahnya angka TSR salah satunya disebabkan oleh kesulitan pasien dalam mengumpulkan sampel dahak.

“Kendala terbesar adalah pengumpulan dahak karena pasien harus mengumpulkan di rumah. Tidak semua mengembalikan sampel, sehingga proses diagnosis bisa tertunda,” jelasnya.

Puskesmas Gunung Samarinda telah memiliki mesin Tes Cepat Molekuler (TCM) sejak 2021. Alat ini mampu mendeteksi kuman TBC lebih cepat dan akurat, termasuk mendeteksi kemungkinan resistensi obat.

“Kapasitas mesin TCM sangat membantu. Selain untuk pasien kami, kami juga menerima rujukan sampel dari klinik dan puskesmas lain,” kata Dimas.

Dia menambahkan bahwa kerja sama antar fasilitas kesehatan perlu terus ditingkatkan agar setiap kasus bisa terdiagnosis lebih cepat dan meminimalkan risiko penularan.

Dimas berharap pemerintah daerah memberikan dukungan lebih besar, terutama dalam bentuk kampanye publik mengenai pemberantasan TBC, seperti halnya yang dilakukan saat pandemi Covid-19.

“Perlu pemberitaan yang masif agar masyarakat semakin paham tanda-tanda TBC, tidak takut memeriksakan diri, dan patuh menjalani pengobatan. Selain itu, pemenuhan logistik sangat penting untuk mengejar target Eliminasi TBC 2030,” tegasnya.

Dengan penguatan skrining, percepatan diagnosis, serta dukungan lintas sektor, Puskesmas Gunung Samarinda optimistis kasus TBC dapat terus ditekan dan masyarakat lebih sadar pentingnya deteksi dini. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *