Puskesmas Gunung Samarinda Gencarkan Program “Gelang Anting” untuk Tekan Kasus Stunting

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Upaya penurunan kasus stunting terus dilakukan oleh Puskesmas Gunung Samarinda melalui berbagai program intervensi gizi dan pendampingan keluarga.

Nutrisionis Puskesmas Gunung Samarinda, Murgiana, A.Md.Gz, menjelaskan bahwa pihaknya aktif melakukan pelacakan dan penanganan kasus stunting di dua wilayah kerja, yakni Kelurahan Gunung Samarinda dan Gunung Samarinda Baru.

“Data terakhir pada Oktober, di Gunung Samarinda Baru tercatat sekitar 66 kasus yang masuk dalam pemantauan, sementara di Kelurahan Gunung Samarinda ada sekitar 150 kasus, meski datanya masih dalam proses verifikasi,” jelas Murgiana kepada wartawan, Senin (10/11/2025).

Ia mengatakan, Puskesmas Gunung Samarinda memiliki inovasi penanganan stunting bernama ‘Gelang Anting’ (Gerakan Langsung Anti Stunting). Program ini menekankan pada aksi cepat ketika ditemukan balita atau anak dengan indikasi stunting.

“Begitu ada temuan, kami langsung melakukan pelacakan, pengukuran ulang tinggi badan, dan verifikasi hasil pengukuran kader di lapangan. Setelah itu kami lakukan konseling kepada orang tua dan, bila diperlukan, dilakukan rujukan ke Puskesmas atau rumah sakit,” terangnya.

Selain pelayanan medis, Murgiana menjelaskan bahwa pihaknya juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan untuk rujukan khusus anak stunting.

Anak-anak yang terdeteksi stunting dirujuk ke beberapa lokasi pemeriksaan lanjutan, seperti Puskesmas Batu Ampar, Rumah Sakit, dan fasilitas kesehatan lainnya, untuk pemeriksaan laboratorium dan tindak lanjut gizi.

Dalam mendukung pemulihan gizi anak, Puskesmas juga melaksanakan pemberian makanan tambahan (PMT) lokal. Program ini tidak hanya menyasar anak stunting, tetapi juga balita dengan berat badan kurang atau gizi kurang.

“PMT diberikan setiap hari. Untuk kategori berat badan kurang selama 28 hari, dan untuk gizi kurang selama 56 hari,” ujar Murgiana.

Ia menambahkan, pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial dengan melibatkan keluarga.

“Kami melakukan konseling kepada orang tua untuk mengetahui penyebab stunting. Bisa jadi karena faktor ekonomi, pola asuh, atau kesehatan. Kalau dari sisi kesehatan, kami bantu melalui pelacakan dan perbaikan gizi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Murgiana menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Ia mencontohkan, perbaikan kondisi anak harus dimulai sejak masa kehamilan ibu.

“Stunting itu hasil dari proses panjang. Jadi tidak bisa dalam sebulan anak langsung tinggi. Harus dari awal, sejak dalam kandungan. Ibu hamil harus rutin diperiksa, jangan sampai anemia atau mengalami kekurangan energi kronis,” paparnya.

Menurutnya, dengan dukungan program ANC atau Antenatal Care, pemantauan kehamilan yang ketat, serta edukasi gizi yang berkelanjutan, diharapkan angka stunting di wilayah Gunung Samarinda dapat terus ditekan.

“Intinya, mencegah lebih baik. Kami berupaya agar sejak masa kehamilan ibu sudah mendapatkan dukungan gizi yang cukup, supaya anak yang lahir tumbuh sehat dan tidak mengalami stunting,” tutup Murgiana. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *