Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Bantuan air bersih yang disalurkan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan kepada kelompok tani belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan penyiraman lahan pertanian selama musim kemarau.
Keterbatasan volume air membuat petani masih kesulitan menjaga ketersediaan air untuk seluruh tanaman yang dikelola.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)
Agus Basuki mengatakan, kelompoknya menjadi salah satu penerima bantuan air melalui pengiriman mobil tangki. Namun, jumlah air yang diterima masih jauh dari kebutuhan untuk mengairi seluruh lahan pertanian.
Kelompoknya memperoleh dua tangki air dengan volume keseluruhan sekitar 10.000 liter. Persediaan tersebut hanya mampu digunakan untuk dua kali penyiraman pada lahan seluas 0,25 hektare.
Padahal, luas lahan pertanian yang dikelola kelompoknya mencapai empat hektare. Artinya, bantuan yang diterima belum mampu menjangkau seluruh area pertanian yang membutuhkan penyiraman.
“Kalau dihitung dari kebutuhan, jumlah air yang datang masih jauh. Untuk seperempat hektare saja hanya cukup dua kali penyiraman, sedangkan lahan kami ada empat hektare,” ujarnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan air pertanian di tengah kemarau panjang. Ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan pasokan air, terutama ketika sumber air yang biasa digunakan petani mengalami kekeringan.
Sementara itu, Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) masih menjalankan program bantuan air bagi kelompok tani terdampak kekeringan.
Kepala DKP3 Balikpapan Sri Wahjuningsih mengatakan, hingga awal November 2026 bantuan telah disalurkan kepada 52 kelompok tani yang tersebar di Balikpapan Utara dan Balikpapan Timur.
Distribusi air dijadwalkan berlangsung hingga pekan ketiga November 2026. Penyaluran dilakukan menggunakan mobil tangki berkapasitas 1.200 liter untuk setiap pengiriman.
Dalam program tersebut, biaya pengisian air sebesar Rp80 ribu per pengiriman ditanggung pemerintah kota. Dengan demikian, kelompok tani tidak dibebani biaya pengadaan air.
Sri menjelaskan, air yang disalurkan digunakan untuk mengisi tandon dan embung milik kelompok tani. Penampungan tersebut menjadi sumber persediaan air untuk memenuhi kebutuhan penyiraman tanaman selama musim kemarau.
Ia juga membedakan program bantuan Pemkot Balikpapan dengan distribusi air yang sebelumnya dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Kalimantan. Penyaluran dari BWS IV berlangsung selama satu pekan, sedangkan program pemerintah kota dijadwalkan berlanjut hingga pekan ketiga November.
Meski distribusi bantuan masih berjalan, besarnya kebutuhan air di tingkat petani menunjukkan bahwa persoalan kekeringan belum sepenuhnya teratasi. Ketersediaan pasokan tambahan masih dibutuhkan agar penyiraman dapat menjangkau seluruh lahan pertanian yang terdampak. (yud)











