Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Paras cantiknya membuat sosok Titik Nurdiyanti (33) mudah mencuri perhatian. Namun bukan karena pekerjaan di dunia hiburan, melainkan karena bakul jamu yang setiap hari ia bawa berkeliling menawarkan minuman racikan rempah kepada pelanggan.
Perempuan yang akrab disapa Tyan itu memilih jalan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sederhana. Berkeliling dari gang ke gang, dari satu tempat ke tempat lain, menawarkan jamu menjadi cara Tyan menghidupi keluarga kecilnya.
TAK ADA RASA MALU
Justru sebaliknya, Tyan mengaku bangga bisa mendapatkan penghasilan dari tangannya sendiri.
“Saya memang tipikalnya nggak suka disuruh-suruh, lebih suka yang bebas. Nah jual jamu ini kan kita sendiri yang jalani. Saya juga nggak malu, malah bangga bisa menghasilkan uang sendiri. Dan tidak semua orang bisa kayak aku,” ungkap wanita dua anak tersebut.
Tyan merupakan perempuan kelahiran Jatiyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Ia merantau dari Solo ke Balikpapan sejak 2014.
Sebelum datang ke Kalimantan Timur, ia sempat bekerja di sebuah pabrik plywood. Namun penghasilan yang tidak menentu serta persaingan di dunia kerja membuatnya memilih mencoba peruntungan di Balikpapan.
Awalnya, kedatangannya ke Balikpapan bukan untuk berjualan jamu.
Tyan datang untuk membantu menjaga anak bibinya. Kebetulan, sang bibi juga merupakan penjual jamu. Dari situlah perjalanan Tyan mengenal dunia jamu dimulai.
“Awalnya ke Balikpapan itu untuk jagain anaknya bulek, nah kebetulan bulek disini itu juga jual jamu. Jadinya sambil belajar bikin jamu, racik sendiri rempah-rempahnya lalu diolah,” katanya kepada lintasbalikpapan.com, Kamis (1/10/2026).
Dari sang bibi, Tyan belajar meracik sendiri berbagai rempah hingga menjadi jamu yang kemudian ia jual.
Perlahan, ia mulai berjualan sendiri. Tidak menggunakan kendaraan mewah, Tyan berjalan kaki menyusuri gang demi gang. Pasar juga pernah menjadi tempatnya menawarkan jamu.
Lelah tentu menjadi bagian dari kesehariannya. Namun bagi Tyan, pekerjaan tersebut tetap membuatnya senang karena ia memiliki kebebasan sekaligus bisa membantu perekonomian keluarganya.
Perjalanan menjadi penjual jamu ternyata tidak selalu berjalan mulus. Paras cantiknya justru terkadang membuat Tyan harus menghadapi pelanggan yang bersikap usil. Ia mengaku pernah mengalami perlakuan tidak senonoh ketika berjualan di salah satu pasar.
“Saya pernah dicolek-colek, digoda-goda sampai nawarin di salah satu pasar. Sejak saat itu saya nggak mau lagi jualan di pasar karena trauma,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuatnya memilih tidak lagi berjualan di lokasi tersebut. Namun Tyan tidak berhenti. Ia tetap berjualan dengan rute dan cara yang membuatnya merasa lebih nyaman.
Bahkan, di tengah perjalanan mencari penghasilan, Tyan pernah mendapat tawaran pekerjaan yang sama sekali berbeda dari aktivitasnya sekarang.
Ia pernah ditawari menjadi Ladies Companion (LC). Tawaran lain juga datang agar dirinya mengikuti sekolah Disc Jockey (DJ) untuk kemudian tampil di klub malam. Semua ditolaknya.
Bukan karena tidak ada kesempatan, tetapi Tyan mengaku memiliki pilihan sendiri tentang pekerjaan yang ingin dijalaninya.

“Pernah ditawari jadi LC sama mami, tapi saya nggak mau. Pernah juga ditawari disekolahkan jadi DJ tapi saya juga nggak mau. Saya mau yang begini aja, bebas dan senang jalaninnya,” ujarnya.
Pilihan tersebut ternyata cukup menghasilkan.
Setiap hari, Tyan berjualan dua kali. Pagi hari dan sore hingga malam. Penghasilannya memang tidak selalu sama, tetapi rata-rata cukup untuk menghidupi ekonomi keluarganya.
“Nggak nentu sih, tapi ada aja buat memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Di balik aktivitasnya menjajakan jamu, ada keluarga yang menjadi alasan utama Tyan terus berjalan. Sang suami juga bekerja sebagai pedagang bakso. Keduanya sama-sama memahami kesibukan dan pekerjaan masing-masing.
“Kebetulan suami saya juga pedagang bakso. Jadinya sama-sama ngerti aja kerjaan masing-masing. Alhamdulillah selama ini cukup,” katanya.
Bagi Tyan, menjual jamu bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang. Ada keluarga yang ingin ia bantu, dua anak yang ingin ia besarkan, dan kehidupan yang ingin terus ia perjuangkan.
Ia berharap penghasilan dari berjualan jamu bisa perlahan mengubah kondisi ekonomi keluarganya.
“Saya berharap dengan begini bisa mengubah keuangan keluarga, membantu menaikkan perekonomian keluarga,” pungkasnya.
Dari balik bakul jamu yang dibawanya berkeliling, Tyan menunjukkan satu hal sederhana: pekerjaan tidak harus terlihat mewah untuk memiliki arti.
Di tengah pilihan pekerjaan yang pernah datang kepadanya, ia memilih tetap berjalan membawa jamu.
Bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena ia merasa inilah jalan yang membuatnya bebas, senang, dan menurutnya berkah untuk keluarganya. (*)











