Lintasbalikpapan.com, KOTABARU – Menjaga laut ternyata bisa dimulai dari halaman rumah. Pesan itulah yang dibawa PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Pelaksana Proyek Kalimantan Bagian Timur 4 (PLN UPP KLT 4) saat kembali melanjutkan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Berdaya Tanjung Seloka di Desa Tanjung Seloka, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru.
Memasuki periode ketiga, program tersebut tak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat menjadi bagian dari solusi sekaligus mengembangkan potensi desa.
Tahun ini, PLN menghadirkan sejumlah kegiatan, mulai dari edukasi dampak sampah plastik dan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik, restorasi terumbu karang hingga penanaman mangrove. Kegiatan melibatkan pelajar dan masyarakat Desa Tanjung Seloka serta berbagai pemangku kepentingan.
Manager PLN UPP KLT 4, Ismail Hartanto Kartojo, bersama Tim TJSL UPP KLT 4 turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama Camat Pulau Laut Selatan, Pemerintah Desa Tanjung Seloka, Ketua BPD Tanjung Seloka, Dinas Perikanan Kabupaten Kotabaru, serta sejumlah akademisi dan narasumber.
Salah satu materi yang menarik perhatian masyarakat adalah pengelolaan sampah dari rumah. Warga diajak mulai memilah sampah organik dan residu. Sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi atau teh hingga daun dapat dipisahkan untuk kemudian diolah menjadi kompos.
Masyarakat juga diperkenalkan dengan penggunaan EM4 sebagai aktivator dalam proses pengomposan. Mulai dari memilih bahan organik, mencacah, menyusun bahan, memberikan aktivator, memantau proses hingga menghasilkan kompos matang, seluruh tahapan diberikan agar dapat diterapkan secara sederhana di lingkungan rumah.
Dr. Rina Iskandar, S.Pi., M.S., salah satu narasumber, mengatakan menjaga lingkungan pesisir tidak harus dimulai dari gerakan besar.
“Pengelolaan sampah tidak harus dimulai dari hal yang besar. Kita bisa mulai dari rumah dengan memilah sampah dan mengolah sampah organik menjadi kompos. Kalau dilakukan bersama dan konsisten, kebiasaan sederhana ini bisa membantu menjaga lingkungan pesisir tetap bersih,” ujar Rina.
Masyarakat juga diberikan pemahaman bahwa proses pengomposan membutuhkan pemantauan. Kondisi seperti bau busuk, banyak lalat, terlalu becek maupun proses yang berjalan terlalu lambat menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar pengolahan sampah berjalan dengan baik.
Edukasi tersebut menjadi penting bagi Desa Tanjung Seloka yang memiliki lingkungan pesisir dan perairan yang perlu dijaga bersama. Yulius Kisworo, S.Pi., M.Si., dan Aminah, S.Pi., M.Pi., dari Dinas Perikanan Kabupaten Kotabaru turut memberikan pemahaman mengenai dampak sampah plastik dan sampah rumah tangga terhadap lingkungan perairan.
Pesan yang disampaikan pun sederhana. Menjaga ekosistem laut tidak hanya dilakukan ketika sampah sudah berada di laut, tetapi harus dimulai dengan mengurangi dan mengelola sampah dari sumbernya.
Setelah memperoleh edukasi, masyarakat dan pelajar kemudian diajak turun langsung melakukan aksi lingkungan. Bersama PLN UPP KLT 4, mereka mengikuti restorasi terumbu karang serta penanaman mangrove dengan arahan Prof. Frans Tony dan tim.
Keterlibatan pelajar menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Selain mendapatkan pengalaman langsung, mereka diajak memahami bahwa kelestarian pesisir merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak dini.
Ismail Hartanto Kartojo mengatakan keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama Program Desa Berdaya Tanjung Seloka.
“Memasuki periode ketiga, kami berharap Program Desa Berdaya Tanjung Seloka terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Tahun ini kami fokus pada lingkungan pesisir melalui edukasi pengelolaan sampah, restorasi terumbu karang, dan penanaman mangrove yang dilakukan bersama masyarakat dan pelajar,” ujar Ismail.
Program Desa Berdaya Tanjung Seloka telah berjalan selama tiga periode. Keberlanjutan program diarahkan agar manfaatnya tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan desa.
Kolaborasi PLN bersama pemerintah, masyarakat, akademisi, pelajar dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kekuatan dalam menjaga keberlanjutan program tersebut.
Dari sampah rumah tangga yang dipilah, kompos yang dibuat, terumbu karang yang direstorasi hingga mangrove yang ditanam, masyarakat Desa Tanjung Seloka diajak melihat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana.
Pada akhirnya, menjaga pesisir bukan hanya soal mempertahankan keindahan alam, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem dan potensi kehidupan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada lingkungan perairan.
Melalui Program Desa Berdaya Tanjung Seloka, PLN berharap kolaborasi tersebut terus tumbuh sehingga masyarakat semakin berdaya, lingkungan semakin terjaga, dan potensi desa dapat berkembang secara berkelanjutan. (*)












