Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN — Aksi unjuk rasa yang digelar puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Balikpapan di depan pintu masuk proyek kilang RDMP Balikpapan, Jumat sore (8/5/2026), sempat berlangsung memanas.
Demonstrasi yang berlangsung di kawasan objek vital nasional itu mendapat pengawalan ketat ratusan personel kepolisian. Massa aksi bergantian menyampaikan orasi terkait berbagai persoalan di lingkungan proyek strategis nasional tersebut, mulai dari ketenagakerjaan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga dugaan kasus kekerasan seksual.
Ketegangan terjadi ketika pihak Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) hanya meminta lima orang perwakilan mahasiswa untuk masuk ke area perusahaan guna melakukan dialog tertutup. Tawaran tersebut langsung ditolak massa aksi yang menginginkan pembahasan dilakukan secara terbuka di lokasi demonstrasi.
Mahasiswa menilai dialog tertutup tidak mencerminkan transparansi terhadap tuntutan yang mereka sampaikan kepada perusahaan maupun pemerintah.
Adu argumen sempat terjadi antara massa aksi dengan pihak perusahaan dan aparat keamanan yang berjaga di lokasi. Namun setelah negosiasi berlangsung beberapa saat, pihak perwakilan KPB akhirnya bersedia menemui mahasiswa secara langsung di depan gerbang proyek.
Koordinator lapangan aksi, Wisnu Nugraha, mengatakan pihaknya membawa sedikitnya enam tuntutan dalam aksi tersebut. Salah satunya mendesak Pertamina menyampaikan aspirasi pencabutan regulasi ketenagakerjaan yang dinilai merugikan buruh kepada DPR RI.
“Kami meminta Pertamina tidak tutup mata terhadap persoalan buruh yang terjadi di lapangan,” ujar Wisnu dalam orasinya.
Selain itu, HMI Balikpapan juga menuntut penerapan aturan penyerapan tenaga kerja lokal sesuai perda yang berlaku, dengan komposisi sekitar 60 hingga 70 persen pekerja berasal dari daerah.
Mahasiswa turut menyoroti persoalan keselamatan kerja di proyek RDMP dan meminta audit independen terhadap sistem K3 menyusul berbagai laporan kecelakaan kerja yang disebut masih terjadi.
“Pertamina pernah menyampaikan capaian 70 juta jam kerja tanpa kecelakaan saat peresmian oleh Presiden Prabowo. Tapi realitasnya masih banyak kecelakaan kerja, bahkan ada yang meninggal dunia,” tegas Wisnu.
Dalam orasinya, massa aksi juga menyinggung adanya dugaan insiden ledakan dan kebakaran di area proyek, termasuk di kawasan Lawe-Lawe yang disebut menimbulkan korban jiwa.
Tak hanya itu, mahasiswa meminta transparansi penanganan dugaan kasus kekerasan seksual terhadap seorang buruh perempuan yang disebut terjadi di lingkungan proyek RDMP.
“Pertamina harus ikut mengawal kasus ini dan terbuka kepada masyarakat,” katanya.
Aksi demonstrasi berlangsung hingga sore hari dengan pengawalan aparat kepolisian dan berakhir dalam kondisi kondusif. (yud)












