Yamaha Siapkan Aldi Satya Mahendra Menuju Moto2 2028, Pembinaan Pembalap Diperkuat dari Nasional hingga Dunia

Lintasbalikpapan.com, JAKARTA — Yamaha Racing Indonesia mulai memproyeksikan langkah berikutnya bagi Aldi Satya Mahendra setelah menjalani proses panjang di kejuaraan balap internasional. Pembalap yang pernah meraih gelar juara dunia World Supersport 300 2024 itu diproyeksikan tampil di ajang Moto2 pada musim 2028.

Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi pembinaan pembalap secara berjenjang yang diterapkan Yamaha Racing Indonesia. Pengembangan tidak hanya berfokus pada kemampuan memacu motor, tetapi juga kondisi fisik, pemahaman karakter kendaraan, adaptasi terhadap situasi balapan, hingga ketahanan mental saat menghadapi persaingan di level dunia.

Aldi menjadi salah satu contoh hasil pembinaan tersebut. Ia menjalani tahapan kompetisi internasional mulai dari R3 BLU CRU World Cup, berlanjut ke World Supersport 300, hingga kini bersaing di World Supersport.

Manager Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Wahyu Rusmayadi, mengatakan perkembangan Aldi terlihat dari peningkatan kondisi fisik dan kemampuan teknis selama mengikuti berbagai kompetisi.

“Dalam beberapa tahun terakhir melakoni proses, kondisi fisik Aldi Satya Mahendra mengalami perkembangan pesat dengan peningkatan performa hingga 20 persen. Aspek lainnya seperti kemampuan beradaptasi dengan motor, pemahaman karakter motor dan set up, menghadapi situasi yang terjadi saat race di sirkuit, termasuk dalam keberhasilan improvement yang dicapai,” ungkap Wahyu.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi modal untuk mendorong Aldi mencapai target yang lebih tinggi, termasuk bersaing memperebutkan kemenangan dan podium di World Supersport sebelum melangkah ke jenjang berikutnya.

“Kami harapkan dia semakin bertumbuh dan mewujudkan target lebih baik, untuk merebut kemenangan atau sebagai penantang podium di World Supersport. Di musim 2028 Aldi Satya Mahendra diproyeksikan akan berkompetisi di kejuaraan Moto2,” lanjutnya.

Pembinaan Yamaha Racing Indonesia tidak hanya menyasar Aldi. Pada musim 2026, tujuh pembalap binaan yang tergabung dalam skuad factory berkompetisi penuh di empat kejuaraan internasional.

Mereka adalah Aldi Satya Mahendra di World Supersport, Arai Agaska di World Sportbike, serta Wahyu Nugroho, M Faerozi, Candra Hermawan, dan Fadhil Musyavi di Asia Road Racing Championship (ARRC). Sementara itu, Sabian Fathul Ilmi berkompetisi di Yamaha R3 BLU CRU Asia-Pacific Championship.

Keikutsertaan di berbagai kejuaraan tersebut memberikan kesempatan kepada pembalap untuk menghadapi karakter lintasan, level persaingan, dan tekanan kompetisi yang berbeda. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses peningkatan kemampuan sebelum mereka melangkah ke tingkat yang lebih tinggi.

Di dalam negeri, Yamaha Racing Indonesia juga membangun fondasi melalui kompetisi nasional. Pada musim 2026, tercatat ada 10 tim dengan total 40 pembalap yang mengikuti berbagai kejuaraan nasional.

Ajang nasional menjadi ruang bagi pembalap untuk mengembangkan kemampuan dasar dan memperoleh pengalaman bertanding. Selanjutnya, mereka dapat diarahkan menuju kejuaraan Asia hingga kompetisi dunia sesuai perkembangan dan kesiapan masing-masing.

Selain mengikuti perlombaan, para pembalap juga mendapatkan dukungan berupa pelatihan fisik, latihan di Eropa, serta pembentukan mental. Program tersebut ditujukan untuk membantu mereka menghadapi tuntutan kompetisi internasional yang tidak hanya mengandalkan kecepatan di lintasan.

Konsistensi pembinaan menjadi penting karena perjalanan menuju level dunia membutuhkan proses panjang. Pembalap harus mampu memahami karakter motor, menentukan setelan yang tepat, membaca situasi balapan, serta menjaga konsentrasi ketika menghadapi tekanan.

Bagi Yamaha Racing Indonesia, keberhasilan Aldi meraih gelar juara dunia World Supersport 300 pada 2024 menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan berjenjang dapat membuka jalan bagi pembalap Indonesia untuk bersaing di panggung internasional.

Kini, dengan proyeksi menuju Moto2 pada 2028, Aldi menghadapi tantangan berikutnya untuk meningkatkan daya saingnya. Sementara itu, pembinaan terhadap pembalap lain terus berjalan agar regenerasi dan peluang Indonesia melahirkan pebalap berprestasi di level dunia tetap terjaga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *