Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Balikpapan Bergerak menggelar aksi demonstrasi di depan Balai Kota Balikpapan, Kamis (1/10/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan. Di antaranya terkait persoalan air bersih, ketersediaan BBM bersubsidi, pemadaman listrik bergilir, kecelakaan lalu lintas, serta pembangunan Rumah Sakit (RS) Sayang Ibu di Balikpapan Barat.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Jusliadin, mengatakan persoalan air bersih menjadi salah satu isu utama yang mereka soroti. Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang semestinya dapat dipenuhi pemerintah.
Ia menilai masih adanya persoalan distribusi dan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Balikpapan menunjukkan pelayanan terhadap kebutuhan dasar masyarakat belum berjalan secara maksimal.
Selain air bersih, mahasiswa juga menyoroti persoalan BBM bersubsidi, khususnya Pertalite. Mereka menilai pengaturan jam pengisian maupun sistem ganjil-genap yang diterapkan pemerintah belum menyelesaikan persoalan utama berupa keterbatasan kuota.
Jusliadin menyebut kebutuhan Pertalite di Balikpapan pada 2026 mencapai sekitar 177.039 kiloliter (KL), sedangkan kuota yang disetujui hanya sekitar 51.868 KL.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya selisih kebutuhan dan alokasi yang cukup besar. Dampaknya, masyarakat masih menghadapi antrean panjang serta keterbatasan akses BBM bersubsidi di sejumlah SPBU.
“Yang menjadi persoalan hari ini adalah kurangnya kuota BBM pada tiap-tiap SPBU. Ganjil-genap bukan solusi konkret atas persoalan ini,” ujar Jusliadin dalam aksi tersebut.
Dia meminta pemerintah dan pihak terkait tidak hanya melakukan pembatasan waktu maupun hari pengisian, tetapi juga mengevaluasi distribusi dan ketersediaan BBM bersubsidi secara menyeluruh.
Mahasiswa juga menilai persoalan BBM dapat menimbulkan dampak lanjutan terhadap aktivitas masyarakat, mengingat kendaraan menjadi salah satu sarana utama mobilitas warga di Balikpapan.
Selain BBM, persoalan pemadaman listrik bergilir turut menjadi sorotan. Mahasiswa meminta pemerintah bersama pihak terkait memastikan keandalan pasokan listrik agar aktivitas masyarakat tidak terganggu.
Isu kecelakaan lalu lintas juga masuk dalam tuntutan aksi. Mahasiswa meminta pemerintah meningkatkan langkah keselamatan dan evaluasi terhadap titik-titik yang dinilai rawan kecelakaan di Kota Balikpapan.
Dalam aksi tersebut, Aliansi Balikpapan Bergerak juga menyoroti pembangunan RS Sayang Ibu di Kelurahan Baru Ulu, Kecamatan Balikpapan Barat.
Jusliadin mempertanyakan pembangunan rumah sakit yang sebelumnya dikerjakan dengan anggaran sekitar Rp106,19 miliar tersebut.
Menurutnya, pembangunan rumah sakit sempat dikerjakan oleh PT Ardi Tekindo Perkasa dengan masa pelaksanaan pekerjaan selama tujuh bulan. Namun, pembangunan tidak selesai sesuai target dan kontrak kemudian diputus oleh Pemkot Balikpapan.
Ia juga menyebut kontraktor tersebut telah dikenakan sanksi daftar hitam atau blacklist.
“Pembangunan rumah sakit terhenti karena kontraktor yang bermasalah. Kami mempertanyakan transparansi anggaran yang sudah digunakan dan berapa yang dikembalikan kepada pemerintah,” katanya.
Mahasiswa juga mempertanyakan tindak lanjut pembangunan RS Sayang Ibu setelah DPRD Kota Balikpapan kembali menganggarkan pembangunan melalui skema tahun jamak dengan nilai sekitar Rp218,5 miliar.
Jusliadin meminta pemerintah membuka informasi terkait penggunaan anggaran pembangunan sebelumnya maupun rencana anggaran pembangunan lanjutan.
Ia juga menyinggung hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada 18 Juni 2026 yang disebut masih menunggu hasil pemeriksaan Inspektorat. Menurutnya, hingga September 2026, belum ada kejelasan mengenai hasil pemeriksaan maupun tindak lanjut pertanggungjawaban atas persoalan pembangunan rumah sakit tersebut.
Selain persoalan anggaran dan pembangunan, mahasiswa mengungkapkan adanya laporan rumah warga yang mengalami keretakan di sekitar lokasi pembangunan rumah sakit.
Berdasarkan keterangan yang mereka terima dari Ketua RT 16 Kelurahan Baru Ilir, disebut terdapat sekitar 30 rumah yang mengalami keretakan.
Jusliadin berharap pembangunan RS Sayang Ibu dapat segera dilanjutkan dan diselesaikan sehingga masyarakat Balikpapan Barat tidak perlu menempuh jarak jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Kami berharap pembangunan rumah sakit segera dilanjutkan agar masyarakat, khususnya yang berada di Balikpapan Barat, lebih mudah mendapatkan akses pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Aksi mahasiswa sempat diwarnai ketegangan antara massa dengan aparat kepolisian. Situasi tersebut terjadi setelah massa aksi berupaya membakar ban di lokasi demonstrasi.
Aparat kemudian melakukan pengamanan untuk mencegah tindakan tersebut. Meski sempat terjadi adu dorong dan ketegangan, aksi tetap berlangsung dengan penyampaian sejumlah tuntutan kepada Pemkot Balikpapan. (yud)












