Kasus Pelecehan di Dunia Olahraga, Dewan Tekankan Peran Keluarga dan Pengawasan

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Maraknya dugaan kasus pencabulan dan pelecehan seksual yang melibatkan oknum pelatih di sejumlah cabang olahraga (cabor) di Kota Balikpapan mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Siska Anggreni.

Siska menilai, keberanian korban untuk bersuara sangat dipengaruhi oleh dukungan dari lingkungan keluarga. Menurutnya, peran orang tua menjadi kunci dalam membangun kepercayaan diri anak, khususnya perempuan, agar berani mengungkapkan hal-hal yang dialaminya.

“Kalau di lingkungan keluarga saja kurang ada dukungan, bagaimana anak bisa berani bersuara. Keberanian itu terbentuk dari ruang lingkup terdekat, terutama keluarga,” ujar Siska kepada wartawan, Senin (27/4/2026)

Selain faktor keluarga, Siska juga menyoroti adanya kemungkinan tekanan maupun ancaman dari pelatih terhadap atlet, yang membuat korban memilih untuk diam.

“Bisa jadi ada tekanan atau ancaman dari pelatih, sehingga anak tidak berani berbicara,” tambahnya.

Dia juga menekankan pentingnya pengawasan dari pengurus cabang olahraga. Menurutnya, minimnya pengawasan saat proses latihan membuka celah terjadinya tindakan yang tidak diinginkan.

“Kalau pengawasan dari pengurus atau ketua cabor berjalan baik, pelatih tidak akan leluasa melakukan hal-hal seperti itu. Karena biasanya saat latihan hanya ada pelatih dan atlet,” jelasnya.

Siska mendorong agar pengurus cabor segera mengambil langkah konkret menindaklanjuti kasus yang telah mencuat ke publik. Ia menegaskan, penanganan awal seharusnya dilakukan di internal organisasi sebelum dibawa ke DPRD.

“Pengurus cabor harus bertindak dulu. Kalau tidak ada solusi, baru bisa dibawa ke Komisi IV untuk dilakukan rapat dengar pendapat (RDP),” tegasnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya langkah pencegahan, salah satunya melalui proses seleksi dan klasifikasi pelatih yang lebih ketat. Meski demikian, ia mengakui bahwa tidak mudah mencari pelatih yang sesuai, termasuk mempertimbangkan pelatih perempuan untuk atlet perempuan.

“Pencegahan bisa dilakukan dengan penjaringan dan klasifikasi pelatih yang lebih ketat, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (yud/ADV/DPRD Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *