Lintasbalikpapan.com – Pertandingan Persija Jakarta melawan PSIM Yogyakarta di pekan ke-14 BRI Super League 2025/2026 bukan sekadar duel perebutan tiga poin. Laga yang digelar di SUGBK ini bertepatan dengan hari ulang tahun ke-97 Persija, yang otomatis menambah tensi dan tekanan untuk tampil sempurna di hadapan pendukung sendiri. Mauricio Souza pun menegaskan bahwa momen spesial ini menjadi dorongan besar agar timnya kembali menghadirkan pesta kemenangan, apalagi Macan Kemayoran sedang nyaman dengan lima kemenangan beruntun.
Dengan form yang sedang stabil, Persija tidak hanya bermain untuk menjaga posisi dua besar, tetapi juga menjaga momentum agar tetap menempel ketat Borneo FC yang masih memimpin klasemen. Namun, Souza tetap mengingatkan bahwa PSIM bukan lawan sembarangan. Kualitas organisasi permainan dan gaya bermain disiplin Laskar Mataram menjadi ancaman yang tidak bisa di remehkan, meski Persija dipastikan tampil tanpa beberapa pemain kunci.
Persija Incar Poin Penuh meski Didera Banyak Absensi
Jika melihat situasi skuad, Persija memang harus bekerja lebih keras. Absennya Gustavo Almeida dan Ryo Matsumura tentu menjadi kehilangan besar, mengingat keduanya sering menjadi tumpuan serangan dalam beberapa laga terakhir. Di tambah lagi, Dony Tri Pamungkas dan Rayhan Hannan juga tak bisa turun karena panggilan Timnas U-22 untuk SEA Games.
Meski begitu, Macan Kemayoran tetap memiliki modal kuat berupa tren positif yang menambah kepercayaan diri tim. Mauricio Souza membawa mental “tiga poin di mana pun bermain,” yang tampaknya mulai terpatri di skuadnya. Dengan kedalaman tim yang cukup solid, Persija masih punya peluang besar untuk mendominasi laga, apalagi mereka kembali bermain di rumah sendiri yang selalu memberikan energi tambahan.
PSIM Datang sebagai Kuda Hitam Paling Berbahaya
Di sisi lain, PSIM Yogyakarta tak datang hanya untuk menjadi tamu di pesta ulang tahun Persija. Laskar Mataram di bawah Jean-Paul van Gastel telah membuktikan diri sebagai kuda hitam paling menyeramkan musim ini. Mereka mampu menumbangkan tim-tim besar seperti Bali United dan Persebaya, menunjukkan bahwa mereka sangat nyaman menghadapi laga-laga sulit.
Meski tanpa Ze Valente dan beberapa pemain penting lainnya. PSIM tetap membawa karakter bermain yang konsisten, disiplin, efektif, dan percaya diri. Van Gastel bahkan menegaskan bahwa apa pun atmosfernya, PSIM akan tetap bermain dengan gaya mereka sendiri. Mentalitas inilah yang membuat PSIM layak di waspadai, terutama karena mereka terbukti sering merepotkan lawan-lawan besar.
Dengan komposisi kekuatan dan motivasi kedua tim, laga ini tampak seimbang di atas kertas. Persija punya tekanan untuk menang dalam momen spesial, sementara PSIM datang dengan reputasi sebagai perusak pesta. Siapa pun yang lebih tenang mengelola tekanan akan memiliki peluang lebih besar untuk mengunci kemenangan.






