Lintasbalikpapan.com – Oxford United memasuki babak baru setelah Erick Thohir resmi memiliki seluruh saham klub yang kini berkompetisi di EFL Championship. Pengumuman tersebut dirilis langsung oleh manajemen klub dan menegaskan bahwa seluruh porsi saham yang sebelumnya dipegang Oxford Investment Holdings kini berada sepenuhnya di tangan Erick. Dengan perubahan struktur ini, Horst Geicke pun mundur dari jajaran direksi, memberi ruang bagi strategi baru yang lebih terarah.
Langkah ini menegaskan keseriusan Erick dalam memperkuat fondasi Oxford United. Meski klub sementara berada di posisi bawah klasemen 2025/2026, kepemilikan penuh membuka peluang untuk perombakan yang lebih cepat, mulai dari manajemen, kualitas skuad, hingga orientasi jangka panjang. Kehadiran striker Timnas Indonesia Ole Romeny juga menunjukkan adanya jalur lebih besar yang bisa menguntungkan bakat-bakat dari Indonesia.
Jejak Panjang Erick Thohir di Sepak Bola Eropa dan Amerika
Bagi publik Indonesia, kiprah Erick Thohir di dunia sepak bola bukanlah hal baru. Sebelum menguasai Oxford United, namanya sudah mendunia ketika mengambil alih mayoritas saham Inter Milan pada 2013. Pada masa itu, ia menjadi orang Asia pertama yang memimpin klub Serie A sebesar Inter Milan. Meski pencapaian tim tak terlalu mencolok, langkah Erick sudah cukup membuka mata dunia bahwa pengusaha Asia Tenggara dapat duduk di level tertinggi manajemen klub Eropa.
Tak berhenti di Italia, ia juga pernah masuk dalam jajaran pengendali DC United di Major League Soccer. Kolaborasinya dengan Jason Levien membuatnya menjadi salah satu pemilik saham terbesar klub tersebut. Meski kedua kepemilikan itu pada akhirnya dijual, pengalaman panjang ini menjadi modal berharga untuk membangun Oxford United menjadi klub yang lebih stabil secara bisnis maupun kompetitif.
Dampak untuk Pemain Indonesia dan Masa Depan Oxford United
Kepemilikan penuh Erick Thohir dapat memberi efek domino bagi para pemain Indonesia yang ingin berkembang di Eropa. Sebelumnya, Marselino Ferdinan sempat merasakan atmosfer kompetisi Inggris meski akhirnya dipinjamkan karena minim menit bermain. Kehadiran Erick sebagai pemilik tunggal membuka potensi jalur pembinaan yang lebih jelas. Terutama bagi pemain muda yang ingin mencicipi kompetisi Inggris.
Bagi Oxford sendiri, konsistensi finansial dan visi jangka panjang menjadi kunci. Dengan reputasi Erick yang sudah malang melintang di dunia olahraga, ada harapan besar bahwa Oxford United bisa keluar dari zona bawah Championship dan membangun pondasi untuk persaingan lebih tinggi.






