Lintasbalikpapan.com – Jerman harus mengakui keunggulan Ekuador dalam laga penutup Grup E Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion New York New Jersey, Jumat (26/6) waktu Indonesia. Meski menelan kekalahan dengan skor 2-1, tim asuhan Julian Nagelsmann tetap mengamankan posisi puncak klasemen grup berkat keunggulan head to head.
Pertandingan ini berlangsung menarik sejak menit awal. Kedua tim sama-sama tampil menyerang sehingga menghasilkan sejumlah peluang berbahaya. Selain diwarnai gol, laga juga menghadirkan drama keputusan VAR yang menjadi salah satu momen paling menentukan sepanjang pertandingan.
Jerman Mengawali Laga dengan Cepat, Ekuador Memberikan Respons Efektif
Jerman langsung menunjukkan kualitasnya begitu peluit pertandingan dibunyikan. Baru memasuki menit kedua, Leroy Sane berhasil memanfaatkan peluang untuk membawa Die Mannschaft unggul lebih dulu. Penyelesaian akhirnya membuat kiper Hernan Galindez tidak memiliki kesempatan melakukan penyelamatan.
Gol tersebut sempat memunculkan perdebatan karena dalam prosesnya terdapat benturan antara Aleksandar Pavlovic dan Pedro Rodriguez. Namun wasit tetap mengesahkan gol setelah tidak menemukan pelanggaran yang cukup untuk membatalkannya.
Keunggulan Jerman ternyata tidak bertahan lama. Ekuador membalas melalui skema serangan balik cepat yang dieksekusi dengan sangat baik oleh Nilson Angulo pada menit kesembilan. Gol tersebut membuat Manuel Neuer harus memungut bola dari gawangnya sekaligus mengubah ritme pertandingan menjadi lebih terbuka.
Setelah skor kembali imbang, kedua tim saling bertukar serangan. Meski beberapa kali mampu memasuki area pertahanan lawan, penyelesaian akhir dari masing-masing kubu belum cukup efektif untuk kembali mengubah papan skor hingga babak pertama berakhir.
Drama VAR Mengubah Jalannya Pertandingan
Memasuki babak kedua, Jerman kembali memperoleh peluang emas ketika Kai Havertz di jatuhkan di dalam kotak penalti. Wasit Tori Penso awalnya menunjuk titik putih yang membuka peluang bagi Jerman untuk kembali unggul.
Namun keputusan tersebut tidak bertahan lama. Setelah melakukan peninjauan melalui Video Assistant Referee (VAR), wasit menemukan adanya pelanggaran yang dilakukan Leroy Sane terhadap Pedro Rodriguez sebelum insiden penalti terjadi. Akibatnya, hadiah penalti resmi dibatalkan dan pertandingan kembali dilanjutkan tanpa perubahan skor.
Keputusan tersebut menjadi salah satu titik balik laga karena Ekuador semakin percaya diri dalam mengembangkan permainan. Tim asal Amerika Selatan itu mulai lebih berani menguasai bola dan beberapa kali mengancam pertahanan Jerman melalui Enner Valencia maupun Kevin Rodriguez.
Gol Gonzalo Plata Pastikan Kemenangan Ekuador
Tekanan Ekuador akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-77. Berawal dari situasi sepak pojok, Kevin Rodriguez menyundul bola ke arah gawang. Saat Manuel Neuer bersiap mengamankan bola, Gonzalo Plata dengan sigap menyambar bola dari jarak dekat dan mengubah skor menjadi 2-1.
Gol tersebut membuat Ekuador tampil semakin percaya diri. Alih-alih bertahan total, mereka tetap memainkan sepak bola menyerang sehingga Jerman kesulitan membangun tekanan secara konsisten.
Di penghujung pertandingan, Die Mannschaft memang berusaha mengejar gol penyeimbang. Namun rapatnya organisasi pertahanan Ekuador membuat berbagai peluang gagal di konversi menjadi gol hingga peluit panjang di bunyikan.
Kemenangan ini menjadi modal penting bagi Ekuador meskipun belum cukup membawa mereka finis di posisi dua besar Grup E. Sementara itu, Jerman tetap keluar sebagai juara grup dengan koleksi enam poin, unggul rekor pertemuan atas Pantai Gading yang memiliki jumlah poin sama setelah memenangkan laga terakhirnya melawan Curacao.
Hasil pertandingan ini membuktikan bahwa dominasi sepanjang fase grup tidak selalu menjamin kemenangan di setiap laga. Di sisi lain, Ekuador menunjukkan semangat juang tinggi dengan memanfaatkan setiap peluang yang tersedia untuk menaklukkan salah satu kandidat kuat juara dunia.












