Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Padamnya listrik yang melanda sejumlah wilayah Balikpapan sejak Kamis (28/5) malam hingga Jumat (29/5) pagi kembali memunculkan pertanyaan lama yang belum juga terjawab tuntas, seberapa andal sebenarnya sistem kelistrikan di Kota Balikpapan?
PLN menyebut gangguan dipicu cuaca buruk disertai petir. Namun bagi masyarakat yang harus menjalani malam tanpa listrik hingga berjam-jam, alasan cuaca bukan lagi jawaban yang cukup. Sebab, setiap kali hujan deras dan angin kencang datang, pemadaman listrik seolah menjadi “langganan” yang terus berulang.
Data PLN menunjukkan lebih dari 30 personel diterjunkan untuk melakukan perbaikan. Sistem kelistrikan baru berhasil pulih sepenuhnya pada Jumat pukul 10.11 WITA. Artinya, sebagian pelanggan harus menunggu berjam-jam hingga pasokan listrik kembali normal.
Manager PLN ULP Balikpapan Utara, Rizka Unairirosi, menjelaskan gangguan awal disebabkan hujan lebat dan petir yang kemudian diperparah pohon tumbang di kawasan Jalan Arjuna, Gunung Polisi.
Namun persoalannya bukan pada cepat atau lambatnya petugas turun ke lapangan. Yang menjadi sorotan adalah mengapa jaringan listrik masih begitu rentan terhadap cuaca yang sejatinya bukan fenomena luar biasa di Balikpapan.
Hujan deras, petir, dan angin kencang merupakan kondisi yang hampir rutin terjadi setiap tahun. Jika satu pohon tumbang saja mampu melumpuhkan jaringan dan menyebabkan pemadaman dalam waktu lama, maka publik berhak mempertanyakan sejauh mana langkah mitigasi yang selama ini dilakukan.
Apalagi Balikpapan merupakan kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Keandalan listrik bukan lagi sekadar kebutuhan rumah tangga, tetapi menjadi fondasi aktivitas bisnis, layanan publik, hingga investasi.
Bagi pelaku usaha kecil, pemadaman berjam-jam berarti potensi kerugian. Bagi rumah tangga, aktivitas terganggu. Bagi pengguna layanan digital dan internet, produktivitas ikut terhenti. Dampaknya tidak sesederhana lampu yang mati.
Pernyataan PLN bahwa kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi tentu patut diapresiasi. Namun masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar evaluasi. Publik menunggu langkah konkret berupa penguatan jaringan, pemangkasan pohon yang berpotensi mengganggu jalur listrik secara berkala, hingga modernisasi sistem proteksi agar gangguan akibat cuaca tidak selalu berujung pada pemadaman luas.
Hal lain yang juga menjadi perhatian adalah soal kompensasi pelanggan. Dalam keterangan resminya, PLN hanya menyebut evaluasi akan dilakukan sesuai mekanisme dan peraturan yang berlaku. Pernyataan tersebut terkesan normatif dan belum memberikan kepastian kepada pelanggan yang terdampak.
Transparansi mengenai durasi gangguan, jumlah pelanggan yang terkena dampak, serta hak-hak pelanggan atas kompensasi semestinya disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Di sisi lain, kerja keras puluhan petugas PLN yang berjibaku di lapangan hingga pagi hari tentu layak diapresiasi. Mereka bekerja di tengah cuaca buruk untuk memulihkan pasokan listrik. Namun apresiasi terhadap petugas tidak boleh menghapus kritik terhadap sistem.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan layanan kelistrikan bukan terletak pada seberapa cepat listrik diperbaiki setelah padam, melainkan seberapa mampu sistem mencegah pemadaman itu terjadi sejak awal.
Balikpapan membutuhkan listrik yang andal, bukan sekadar janji evaluasi setiap kali gangguan berulang. Jika kota ini dipersiapkan menjadi beranda IKN dan pusat pertumbuhan baru Kalimantan, maka keandalan pasokan listrik harus menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar lagi. (yad/*)






