Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Kehadiran Cafe La Gramma di Jalan H. Tjutjup Suparna, kawasan Balikpapan Baru, menambah alternatif tempat nongkrong dan menikmati kopi bagi masyarakat Kota Balikpapan. Mengusung konsep kekinian dengan suasana nyaman dan estetik, kafe ini menyasar berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga pekerja.
Owner La Gramma, Afryandi, mengungkapkan Balikpapan dipilih sebagai lokasi ekspansi karena dinilai memiliki budaya ngopi yang kuat. Ia menilai kebiasaan masyarakat yang menikmati kopi baik pagi maupun malam hari menjadi peluang tersendiri bagi bisnis coffee shop.
“Di Balikpapan ini budaya ngopinya mirip seperti di Pontianak. Pagi orang ngopi, malam juga ngopi. Itu yang membuat kami melihat ini sebagai momentum yang tepat untuk hadir di sini,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Selain itu, Afryandi juga mempertimbangkan potensi perkembangan kawasan Kalimantan, terutama dengan adanya Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia optimistis pertumbuhan aksesibilitas, termasuk rencana penambahan penerbangan, akan berdampak positif terhadap sektor usaha, termasuk kuliner dan kafe.
La Gramma sendiri mulai melakukan pembukaan secara seremoni pada 20 April 2026 lalu. Namun, operasional masih dilakukan secara bertahap. Saat ini, menu yang tersedia masih terbatas pada aneka kopi, lapis legit, dan beberapa pilihan kue.
Ke depan, La Gramma akan menghadirkan konsep “Indonesian Bistrot” dengan menyajikan makanan khas Nusantara yang bersifat comfort food. Menu yang direncanakan antara lain nasi goreng, sop buntut, sop iga, hingga berbagai olahan udang.
“Konsepnya Indonesian Bistrot, jadi kami ingin menghadirkan makanan khas Indonesia yang nyaman di lidah, seperti nasi goreng, sop buntut, dan lainnya,” jelasnya.
Tak hanya itu, pilihan pastry dan kue kering seperti nastar, egg tart, cheese pie, hingga kue sus juga akan melengkapi menu. Secara keseluruhan, La Gramma menargetkan sekitar 100 menu tambahan akan hadir dalam waktu dekat.
Dari sisi minuman, La Gramma mengandalkan racikan kopi khas dengan biji kopi pilihan yang diolah sendiri. Afryandi menyebut pihaknya menggunakan campuran biji kopi asal Mandailing, Brasil, dan Ethiopia yang di-roasting dan di-blend secara mandiri untuk menghasilkan cita rasa khas.
Dalam pengembangannya, La Gramma juga menargetkan dapat beroperasi secara penuh pada 5 Mei 2026 mendatang. Saat ini, progres operasional diperkirakan telah mencapai sekitar 60–70 persen.
Untuk mendukung operasional, jumlah karyawan yang saat ini sekitar 10 orang akan ditingkatkan menjadi sekitar 30 hingga 40 orang, dengan prioritas tenaga kerja lokal.
Kafe ini direncanakan buka mulai pukul 07.00 hingga 23.00 WITA, dengan tambahan menu sarapan seperti bubur ayam. Dengan konsep dan rencana pengembangan tersebut, La Gramma diharapkan dapat menjadi salah satu destinasi kuliner baru yang diminati di Kota Balikpapan. (yud)












