Kisah Perantau dan Tradisi Kepuhunan Warnai Film Lokal “Kerja, Apa Dikerjain?”

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Film horor komedi lokal berjudul “Kerja, Apa Dikerjain?” siap tayang di bioskop mulai 11 Februari 2026. Film produksi 24F Pictures ini disutradarai oleh Ben Kriswana dan menjadi salah satu film layar lebar pertama yang diproduksi oleh kreator lokal Balikpapan.
Sejumlah kreator yang terlibat dalam produksi film ini antara lain Ben Kriswana, Aldi Sodrak, Fazri Kecap, Elvin Terbayang, dan Abil Sonekat.

Film ini mengisahkan perjalanan lima sahabat yang terhimpit masalah keuangan dan memutuskan merantau ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan harapan mendapatkan pekerjaan dan memperbaiki kondisi hidup.

Berbekal informasi lowongan kerja, mereka berharap memperoleh peruntungan, namun satu kesalahan fatal justru membawa mereka ke dalam situasi tak terduga yang dipenuhi kejadian konyol sekaligus horor.
Seluruh proses pengambilan gambar dilakukan di berbagai sudut Kota Balikpapan, mulai dari kawasan permukiman hingga lokasi publik yang akrab dengan kehidupan masyarakat setempat.

Sutradara sekaligus pemeran utama, Ben Kriswana, mengatakan film ini ingin menggambarkan perubahan pola pikir dan mental seseorang setelah merantau.

“Pesannya adalah bagaimana lima orang ini mengalami perubahan setelah merantau. Tantangan saat syuting pasti ada karena ini film pertama dan kru sebagian besar orang Balikpapan yang masih baru. Namun, alhamdulillah semuanya bisa kami selesaikan,” ujar Ben kepada wartawan
usai nonton bareng penayangan perdana film Kerja, Apa Dikerjain?, Selasa (10/2/2026).

Ben menambahkan, film ini juga menjadi sarana pembelajaran dan ingin melihat respons masyarakat terhadap film lokal yang ditayangkan di bioskop.

“Kami tidak ada target untuk banyaknya jumlah penonton. Yang terpenting film ini bisa diterima oleh masyarakat, khususnya warga Balikpapan. Sejauh ini, ini menjadi film lokal Balikpapan pertama yang tayang di bioskop,” katanya.

Selain mengangkat kisah perantau, film ini turut memperkenalkan budaya lokal Kalimantan, salah satunya tradisi Kepuhunan. Tradisi tersebut merupakan mitos yang dipercaya dapat mendatangkan kesialan atau musibah apabila seseorang menolak atau tidak mencicipi makanan dan minuman yang ditawarkan sebelum bepergian.

“Itu hanya sebagai bumbu cerita. Tujuan utamanya tetap menunjukkan perubahan cara berpikir dan mental perantau setelah kembali pulang,” jelas Ben.

Film “Kerja, Apa Dikerjain?” dijadwalkan tayang selama lima hari, mulai 11 hingga 15 Februari 2026, di Cinepolis Living Plaza Balikpapan.

Sementara itu, Eksekutif Produser H. Alwi mengapresiasi karya para kreator lokal Balikpapan tersebut. “Alhamdulillah, ini hasil kreasi anak-anak Balikpapan. Saya sangat mengapresiasi dan berharap film ini bisa menggerakkan dunia perfilman di Balikpapan, khususnya bagi para konten kreator untuk terus melahirkan ide dan karya baru,” ujarnya.

Ia juga menyatakan kesiapan untuk mendukung para kreator lokal yang ingin mengembangkan perfilman di Balikpapan.
“Saya terbuka dan siap mendukung teman-teman yang ingin membuat film dalam bentuk apa pun. Film ini bisa menjadi cikal bakal perkembangan perfilman Balikpapan sekaligus memperkenalkan tradisi lokal seperti Kepuhunan ke masyarakat luar,” tambahnya.

Produser Satya Noveriandy turut mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme penonton saat menghadiri nonton bareng penayangan perdana film Kerja, Apa Dikerjain?.

“Alhamdulillah, antusiasme dan respek penonton sangat tinggi. Dari ekspresi mereka, film ini benar-benar dihargai. Terima kasih untuk penonton, kru, pemain, dan sponsor,” tuturnya.

Menurut Satya, film ini menjadi pengalaman awal bagi seluruh tim untuk membangun kerja sama dan memahami proses produksi film secara profesional. (yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *