Dewan Sebut Bank Sampah Balikpapan Belum Terhubung ke Rantai Ekonomi

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Persoalan sampah di Kota Balikpapan dinilai bukan hanya soal pengurangan volume, tetapi juga soal bagaimana menghubungkan bank sampah dengan jejaring industri daur ulang agar memiliki nilai ekonomi berkelanjutan.

Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Wahyullah Bandung, menilai penguatan bank sampah sejatinya harus diarahkan pada pengembangan rantai ekonomi sirkular, bukan sekadar penempatan fasilitas di setiap kelurahan.

Saat ini hampir seluruh kelurahan telah memiliki 7 hingga 8 bank sampah, namun banyak di antaranya belum berfungsi maksimal karena tidak terhubung dengan pasar penampung. Minimnya kepastian penjemputan dan fluktuasi harga jual membuat masyarakat tidak konsisten menabung sampah.

“Bank sampah sudah ada, tetapi jejaring industrinya belum jalan. Selama tidak ada kepastian kapan sampah diambil dan berapa harga jualnya, masyarakat sulit melihat ini sebagai peluang ekonomi,” ujarnya, Kamis (20/11/2025)

Menurut Wahyullah, masalah utama yang perlu dibenahi bukan lagi soal penyediaan fasilitas, melainkan penguatan ekosistem pengelolaan. Bank sampah perlu terhubung langsung dengan pelaku industri daur ulang, perusahaan CSR, hingga BUMN/BUMD yang memiliki program keberlanjutan.

Ia menilai banyak sektor memiliki potensi untuk masuk, termasuk PLN yang disebut memiliki program yang bisa disinergikan dengan sistem pengolahan sampah di tingkat kelurahan.

“Kalau jejaringnya terbentuk, ini bisa jadi industri baru. Sampah plastik saja punya nilai ekspor. Bahkan seragam atlet di luar negeri sudah dibuat dari plastik daur ulang,” jelasnya.

Selain menciptakan peluang ekonomi, optimalisasi bank sampah akan membantu mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar. DPRD menargetkan hanya 30 persen sampah residu yang masuk ke TPA, sementara sisanya dikelola di tingkat hulu melalui pemilahan dan daur ulang.

Dengan jumlah residu yang semakin sedikit, potensi pemanfaatan sampah menjadi sumber energi melalui insinerator atau pembangkit berbahan bakar sampah pun menjadi lebih realistis.

Wahyullah berharap sinergi antarinstansi, pemerintah, dan sektor swasta diperkuat untuk membangun rantai industri yang solid. Menurutnya, sampah memiliki nilai bisnis, asalkan diolah dengan manajemen yang profesional.

“Sampah itu peluang ekonomi. Tantangannya tinggal bagaimana kita membangun jejaring yang terintegrasi agar bank sampah tidak berdiri sendiri,” tegasnya. (yud/ADV/DPRD Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *