Lintasbalikpapan.com – Laga antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) musim 2025/2026 awalnya berjalan seperti pertandingan biasa. Namun, suasana berubah drastis menjelang akhir pertandingan yang di gelar di Stadion Citarum, Semarang. Termasuk kasus Fadly Alberto Ini.
Ketegangan mulai terasa saat memasuki menit ke-81. Keputusan wasit yang mengesahkan gol kedua Dewa United U-20 memicu protes keras dari pihak Bhayangkara. Mereka menilai gol tersebut terjadi dalam posisi offside. Sayangnya, keputusan wasit tidak berubah, dan pertandingan tetap dilanjutkan.
Situasi yang sudah panas kemudian semakin tak terkendali. Adu argumen antar pemain hingga ofisial tim membuat suasana pertandingan memanas. Puncaknya terjadi saat sebuah insiden mengejutkan terekam kamera, Fadly Alberto Hengga melakukan aksi tendangan kungfu ke arah punggung pemain Dewa United, Rakha Nurkholis.
Momen tersebut langsung viral di media sosial dan menuai berbagai reaksi dari publik. Banyak yang menyayangkan tindakan tidak sportif tersebut, terutama karena terjadi di level pembinaan pemain muda.
Permintaan Maaf Fadly Alberto Hengga Jadi Sorotan
Setelah insiden tersebut menjadi perbincangan luas, Fadly Alberto Hengga akhirnya angkat bicara. Melalui akun media sosial pribadinya, ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas tindakan yang di lakukannya.
Dalam pernyataannya, Fadly mengakui bahwa aksinya merupakan kesalahan besar. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan, terlebih dalam pertandingan resmi. Permintaan maaf pun di sampaikan secara khusus kepada Rakha Nurkholis sebagai korban dalam insiden tersebut, serta kepada tim Dewa United secara keseluruhan.
Tak hanya itu, Fadly juga menyampaikan penyesalan kepada tim Bhayangkara Presisi Lampung FC. Ia merasa telah merugikan tim, baik dari segi permainan maupun citra klub. Bahkan, ia juga menyinggung dampak yang lebih luas, termasuk permintaan maaf kepada Timnas Indonesia dan masyarakat sepak bola Tanah Air.
Pernyataan ini menjadi langkah awal untuk meredam situasi, meski banyak pihak menilai bahwa tindakan disipliner tetap di perlukan untuk memberikan efek jera.
Dampak Insiden dan Pelajaran bagi Sepak Bola Muda
Insiden ini bukan sekadar masalah individu, tetapi juga menjadi cerminan penting bagi pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia. Aksi emosional seperti yang di lakukan Fadly menunjukkan bahwa pengendalian diri masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pemain muda.
Sepak bola bukan hanya soal skill dan strategi, tetapi juga mentalitas dan sportivitas. Dalam pertandingan dengan tensi tinggi, pemain dituntut tetap menjaga emosi dan menghormati lawan maupun keputusan wasit, meskipun terasa tidak adil.
Selain itu, kejadian ini juga menjadi pengingat bagi pelatih dan ofisial untuk lebih aktif dalam membina karakter pemain. Pendidikan mental dan etika bermain harus berjalan seiring dengan latihan teknik di lapangan.
Bagi publik, insiden ini bisa menjadi momentum untuk mendorong perubahan yang lebih baik dalam sistem kompetisi usia muda. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang dan para pemain muda dapat berkembang menjadi atlet profesional yang tidak hanya hebat secara kemampuan, tetapi juga memiliki integritas tinggi.
Dengan adanya permintaan maaf dari Fadly Alberto Hengga, diharapkan proses pembelajaran dapat berjalan dan semua pihak bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini.






