Lintasbalikpapan.com – Persib Bandung harus menerima kabar pahit di penghujung musim 2025/2026. Klub berjuluk Maung Bandung itu resmi mendapatkan hukuman berat dari AFC setelah berbagai insiden yang terjadi saat menghadapi Ratchaburi FC pada ajang AFC Champions League 2.
Keputusan tersebut diumumkan Komite Disiplin dan Etik AFC pada 13 Mei 2026. Hukuman yang diberikan bukan hanya berupa denda besar, tetapi juga larangan menggelar pertandingan kandang dengan penonton di kompetisi AFC berikutnya.
Situasi ini tentu menjadi sorotan besar, apalagi Persib sedang berada dalam momentum penting di akhir musim domestik. Sanksi tersebut di nilai bisa berdampak pada citra klub dan atmosfer pertandingan internasional mereka di masa depan.
AFC Nilai Situasi Stadion Tidak Terkendali
Dalam laporan resmi AFC, pertandingan leg kedua babak 16 besar yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api di sebut di warnai berbagai pelanggaran serius. Fokus utama AFC tertuju pada perilaku suporter yang dianggap melewati batas aturan kompetisi.
Beberapa tindakan yang di sorot antara lain penggunaan flare dan kembang api selama pertandingan berlangsung. Selain itu, terjadi pula pelemparan benda ke area lapangan yang di nilai membahayakan jalannya pertandingan.
Tidak hanya itu, kerusakan fasilitas stadion juga masuk dalam daftar pelanggaran. AFC menilai ada aksi vandalisme terhadap kursi stadion dan papan iklan di area pertandingan. Situasi semakin buruk karena muncul laporan mengenai tindakan kekerasan dan ujaran kasar kepada tim lawan maupun perangkat pertandingan.
Insiden tersebut membuat AFC menganggap pihak penyelenggara gagal menjaga keamanan dan ketertiban selama laga berlangsung. Dalam pertandingan level Asia, standar keamanan memang menjadi perhatian utama karena menyangkut keselamatan pemain, ofisial, hingga penonton.
Persib Dianggap Lalai dalam Sistem Pengamanan
Selain perilaku suporter, AFC juga menilai panitia pelaksana pertandingan tidak menjalankan prosedur keamanan secara maksimal. Pengawasan di sejumlah area stadion di anggap lemah sehingga memicu situasi yang sulit di kendalikan.
Beberapa titik penting seperti lorong stadion, tangga penonton, dan jalur evakuasi di laporkan tidak steril dari kerumunan. Kondisi tersebut di nilai berpotensi membahayakan apabila terjadi keadaan darurat di dalam stadion.
AFC menegaskan bahwa setiap klub tuan rumah wajib memastikan sistem keamanan berjalan optimal sebelum pertandingan di mulai hingga laga selesai. Karena itulah, Persib tidak hanya di anggap bertanggung jawab atas perilaku penonton, tetapi juga atas lemahnya pengelolaan keamanan stadion.
Keputusan ini menjadi peringatan keras bagi klub-klub Asia, termasuk tim Indonesia, bahwa standar penyelenggaraan pertandingan internasional kini semakin ketat. Faktor keamanan dan kenyamanan penonton menjadi aspek yang tidak bisa dianggap sepele.
Denda Rp3,5 Miliar dan Ancaman Sanksi Tambahan
Sebagai konsekuensi dari berbagai pelanggaran tersebut, Persib Bandung di jatuhi denda sebesar USD200 ribu atau sekitar Rp3,5 miliar. Nominal itu wajib di bayarkan dalam waktu 30 hari setelah keputusan di terima klub.
Selain hukuman finansial, Persib juga harus menjalani dua pertandingan kandang tanpa penonton pada kompetisi antarklub AFC berikutnya di Indonesia. Sanksi ini tentu menjadi kerugian besar karena dukungan Bobotoh selama ini di kenal sebagai salah satu kekuatan utama Persib saat bermain di kandang.
Meski demikian, hukuman tanpa penonton untuk laga kedua masih berstatus penangguhan selama dua tahun. Artinya, apabila Persib kembali melakukan pelanggaran serupa dalam periode tersebut, maka hukuman tambahan akan langsung di berlakukan.
Sanksi dari AFC ini menjadi pelajaran penting bagi Persib dan seluruh elemen sepak bola nasional. Dukungan suporter memang menjadi bagian penting dalam sepak bola, tetapi tetap harus berjalan sesuai aturan agar tidak merugikan klub sendiri.
Kini Persib di tuntut melakukan evaluasi besar, baik dari sisi pengamanan stadion maupun edukasi kepada suporter. Jika tidak segera di benahi, bukan tidak mungkin hukuman yang lebih berat bisa menanti pada kompetisi internasional berikutnya.












