Lintasbalikpapan.com – Pertandingan Liga Europa 2025/2026 di Stadion Olimpico, Roma, meninggalkan cerita dramatis yang sulit dipercaya. AS Roma harus menanggung malu di depan puluhan ribu pendukungnya setelah tumbang 0-1 dari tamunya, Lille, pada matchday kedua fase grup. Hasil ini tidak hanya mengejutkan karena kekalahan, tetapi juga karena tiga penalti yang gagal dieksekusi secara beruntun oleh tuan rumah.
Gol Cepat Lille yang Membuat Olimpico Terdiam
Laga baru berjalan beberapa menit, publik Olimpico langsung terdiam ketika Arnar Haraldsson mampu membobol gawang Roma. Gol cepat itu membuat tim asuhan Daniele De Rossi dipaksa tampil lebih agresif sepanjang sisa pertandingan. Statistik mencatat Roma melepaskan 20 percobaan, jauh lebih banyak dari sembilan peluang milik Lille. Namun, efektivitas menjadi kunci kemenangan tim tamu.
Drama Tiga Penalti Gagal
Momen paling menghebohkan terjadi ketika Roma mendapat tiga kesempatan emas dari titik putih. Artem Dovbyk dan Matias Soule, yang di percaya sebagai eksekutor, gagal memanfaatkan peluang. Berke Ozer, kiper muda Lille, tampil sebagai pahlawan dengan menepis tendangan penalti secara beruntun. Bahkan, salah satu penalti sempat di ulang, tetapi hasilnya tetap sama: bola tak kunjung masuk ke gawang.
Fenomena tiga penalti gagal dalam satu pertandingan jelas jarang terjadi di kompetisi Eropa. Pelatih Lille, Bruno Genesio, bahkan menyebut kejadian tersebut sebagai momen aneh sekaligus bersejarah. “Saya baru pertama kali melihat hal seperti ini. Kami memang menderita, tetapi tim menunjukkan keberanian luar biasa,” ujarnya usai pertandingan.
Tidak hanya di lapangan, selebrasi kemenangan Lille juga berlanjut hingga ruang ganti. Di media sosial resmi klub, para pemain terlihat merayakan seolah baru saja mengangkat trofi. Wajar saja, hasil ini membuat Lille memimpin grup sementara dan semakin percaya diri menghadapi laga besar berikutnya melawan Paris Saint-Germain.
Bagi Genesio, kemenangan ini bukan sekadar soal tiga poin, melainkan bukti konsistensi tim setelah mengalahkan Lyon dan Lens di kompetisi domestik. Ia menyebut hasil positif di Eropa menjadi hadiah untuk kerja keras para pemain dalam beberapa pekan terakhir.
Peran Calvin Verdonk yang Jadi Sorotan
Nama Calvin Verdonk turut mencuri perhatian publik Indonesia. Bek naturalisasi yang kini memperkuat Timnas Garuda itu di percaya menjadi starter oleh Genesio. Verdonk tampil di siplin di lini pertahanan sebelum akhirnya di tarik keluar pada menit ke-69 untuk memberi ruang bagi Romain Perraud. Sayangnya, Verdonk sempat mendapat kartu kuning cepat setelah melanggar pemain Roma di menit keenam.
Meski hanya bermain sebagian laga, keterlibatan Verdonk tetap menjadi sorotan karena menandai langkah penting kariernya di kompetisi Eropa. Kehadirannya menunjukkan bahwa pemain Indonesia bisa bersaing di level tertinggi.






