lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Di balik keindahan warna dan detail yang memikat, sebuah lukisan justru menyimpan suara lirih tentang krisis yang nyata. Karya berjudul “The Hum of The Back Country Nature” atau “Senandung Alam Pedalaman” karya Sairi Lumut menjadi lebih dari sekadar karya seni, ia adalah peringatan.
Lukisan ini pernah mencuri perhatian dunia. Pada 2012, karya tersebut berhasil menembus ajang bergengsi Beijing International Art Biennale dan masuk dalam 40 besar dari sekitar 150 seniman dari hampir 100 negara. Bahkan, karya ini dipamerkan di ruang utama museum di Beijing, sebuah pencapaian yang membanggakan seni lokal Kalimantan di panggung global.
Dalam kanvasnya, Sairi menghadirkan sosok gadis Dayak Kenyah bertelinga panjang dan bertato, memainkan alat musik tradisional sape. Sosok ini bukan sekadar figur estetis, melainkan simbol harmoni antara manusia, budaya, dan alam yang telah terjaga selama berabad-abad.
Latar hutan yang lebat dan hijau memperkuat pesan itu. Hutan Kalimantan digambarkan sebagai ruang hidup yang damai dan seimbang. Elemen budaya seperti topeng hudoq turut dihadirkan, menegaskan kedalaman spiritualitas masyarakat Dayak yang hidup berdampingan dengan alam dan dunia leluhur.
Namun, keindahan itu menyimpan kegelisahan.
Lukisan ini seperti “bersenandung”, tetapi bukan sekadar lagu alam, melainkan suara peringatan. Sairi Lumut menyelipkan kritik terhadap kerusakan hutan akibat eksploitasi yang terus berlangsung. Hutan yang dulu menjadi rumah kini perlahan tergerus, dan bersama itu, identitas budaya pun terancam hilang.
Tradisi telinga panjang, tato khas, hingga cerita-cerita magis yang hidup dalam budaya lisan berpotensi ikut punah jika alam sebagai ruang hidupnya ikut lenyap.
Ironisnya, perjalanan lukisan ini justru mencerminkan nasib yang sama. Setelah “berkelana” dari Balikpapan ke Galeri Nasional hingga panggung internasional di Beijing, kini karya tersebut tak lagi banyak terlihat di ruang publik. Ia seolah “diam”, meski pesannya semakin relevan.
Di tengah isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan, karya ini menjadi pengingat kuat: hutan Kalimantan bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian penting dari paru-paru dunia.
Melalui lukisan ini, Sairi Lumut mengajak publik untuk merenung. Sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah pun mengemuka, akankah hutan Kalimantan tetap lestari, atau hanya tinggal cerita bersama hilangnya budaya yang menjaganya?
“Senandung” itu mungkin terdengar pelan. Tapi pesannya, kini semakin nyaring. (*)






